Poin Penting
Jakarta – PT Eastspring Investments Indonesia atau Eastspring Indonesia menargetkan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) tumbuh sekitar 10 persen pada 2026.
Hal itu diungkapkan oleh CEO Eastspring Indonesia, Sulystari usai Konferensi Pers di Jakarta, 21 Januari 2026.
“Kalau target kita seperti tadi saya bilang pengennya double digit, pengennya mungkin sekitar 10 persen untuk target perusahaan sendiri,” ucap Sulystari.
Ia menyebut, pertumbuhan AUM tahun ini masih akan dipengaruhi oleh kondisi pasar, bukan hanya ditopang oleh nilai subscription.
Baca juga: AUM Eastspring Indonesia Tumbuh 23 Persen Jadi Rp72,9 Triliun di 2025
Eastspring Indonesia telah menyiapkan sejumlah upaya untuk merealisasikan target AUM tahun ini. Salah satunya dengan meluncurkan produk terbaru.
Namun, kata Sulystari, Eastspring Indonesia saat ini sedang mempersiapkan produk berbentuk Exchange-Traded Fund (ETF), yakni ETF Emas yang akan dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Di sisi lain, kata Sulystari, tahun ini pihaknya juga masih akan fokus memasarkan dua tipe produk reksadana, yakni pendapatan tetap (fixed income) dan campuran (multi-asset) di dalam maupun luar negeri. Kedua reksadana tersebut akan menjadi mesin pertumbuhan bisnis selama 2026.
“Jadi kita antisipasi ekonomi Indonesia. Kita ada reksadana campuran atau multi-asset yang investasinya sebagian di luar negeri,” imbuhnya.
Di kesempatan yang sama, Head of Multi Asset Eastspring Indonesia, Erik Susanto, menambahkan peran dari produk multi-asset atau diversifikasi produk itu berperan penting dari segi aset alokasi di tengah masih adanya volatilitas pasar.
Baca juga: Ganti Nama, Korea Investment Management Indonesia Targetkan AUM Tumbuh 30 Persen
Menurutnya, kinerja produk reksadana berbasis saham masih akan tumbuh positif tahun ini yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen.
Tidak hanya itu, produk reksadana tersebut juga akan ditopang oleh beberapa sektor. Utamanya didongkrak sektor konsumer yang juga akan didukung oleh program pemerintah, baik dari sisi moneter dan fiskal.
“Di sisi lain fixed income juga masih oke. Karena tahun ini kita melihat ada dua kali potensi pemotongan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang mungkin terjadi di second half ya,” tutup Erik. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting BCA Syariah mencetak laba bersih Rp212 miliar pada 2025, naik dari Rp183,7 miliar… Read More
Poin Penting Adira Finance mengakui tren musiman pasca Ramadan dan Lebaran hampir selalu diikuti kenaikan… Read More
Poin Penting Program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL/WtE) ditargetkan mulai groundbreaking Maret 2026, dengan… Read More
Poin Penting Adira Finance melihat peluang kuat pembiayaan multiguna pada Februari–Maret 2026 seiring momentum Ramadan,… Read More
Poin Penting Permintaan emas tetap kuat meski harga bergejolak, didorong ketidakpastian geopolitik, risiko fiskal, dan… Read More
Poin Penting BPI Danantara menyatakan siap berinvestasi di pasar saham Indonesia dan telah aktif membeli… Read More