Jakarta – Sejak 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggal dari Vietnam. Negara berjuluk “Negeri Naga Biru” ini konsisten mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Vietnam bahkan mampu menjaga pertumbuhan yang positif saat pandemi Covid-19 merebak, berbeda dengan Indonesia.
Hal ini dibenarkan oleh Denny Abdi, Duta Besar Indonesia untuk Vietnam. Menurutnya, ada 3 faktor yang melandasi pesatnya pertumbuhan ekonomi Vietnam. Faktor pertama, yakni foreign direct investment (FDI) yang berkualitas.
“Jadi, kita dengan Vietnam sama-sama negara berkembang. Kita sama-sama memerlukan investasi asing untuk menjadi engine of growth di negara kita. Indonesia ingin investasi asing, Vietnam juga ingin. Tapi, langkah-langkah yang dilakukan Vietnam yang nanti mungkin kita bisa belajar dari situ,” papar Denny pada Selasa, 17 September 2024.
Baca juga: Jarang Diketahui! ISEI Bongkar Penyebab Ekonomi RI Keok dari Vietnam
Salah satunya, Denny menyoroti komitmen Vietnam untuk menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG). Mereka memastikan agar investasi ini tidak berdampak negatif terhadap lingkungan, menyejahterakan masyarakat, dan menerapkan protokol yang berlaku di iklim industri internasional.
Vietnam, menurut Denny, juga berusaha maksimal untuk mengintegrasikan negara mereka dengan dunia internasional, dan mengembangkan iklim investasi. Tidak lupa juga, Vietnam selalu berusaha menyediakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.
Dan yang terpenting, Vietnam juga memerhatikan secara seksama bagian riset dan pengembangan(R&D). Mereka tidak segan meminta negara yang hendak berinvestasi di sana, agar mau membuka bagian riset dan pengembangan di Vietnam.
“Dengan adanya R&D ini, nantinya akan membuka pintu untuk engineer, anak-anak muda, dan mahasiswa pintar di Vietnam, untuk masuk ke sana dan berkolaborasi dengan ahli-ahli dari luar negeri,” tutur Denny.
Dua alasan lain yang dipaparkan Denny adalah kepedulian pemerintah Vietnam terhadap pendidikan dan komitmen terhadap riset serta inovasi. Kedua hal ini berperan penting dalam membentuk iklim investasi yang sehat di negara yang merdeka pada 2 September 1945 ini.
Baca juga: Kinerja Pasar Sahamnya Rontok, Ekonomi Tiongkok Makin Mengkhawatirkan
Menurut Denny, Indonesia memiliki banyak bibit unggul yang bisa membantu memperbaiki kualitas FDI untuk negara ini. Hanya tinggal pintar-pintar pemerintah Indonesia dalam memanfaatkan kecerdasan masa depan bangsa.
“Anak-anak Indonesia yang pintar banyak berada di luar negeri. Untuk menarik mereka pulang, kita harus menyiapkan ekosistemnya, kita harus siapkan industrinya, kita harus siapkan lapangan tempat mereka bisa berkarya sesuai keilmuannya,” tegasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting OJK menargetkan aset asuransi tumbuh 5-7 persen pada 2026, seiring optimisme kinerja sektor… Read More
Poin Penting OJK memproyeksikan kredit perbankan 2026 tumbuh 10–12 persen, lebih tinggi dibanding target 2025… Read More
Poin Penting Kekerasan debt collector dan maraknya jual beli kendaraan STNK only menggerus kepercayaan publik,… Read More
Poin Penting OJK menegaskan peran penagihan penting menjaga stabilitas industri pembiayaan, namun wajib diatur rinci,… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya sidak dua perusahaan baja di Tangerang yang diduga menghindari pembayaran PPN… Read More
Poin Penting Pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp316 triliun pada 2025, tumbuh 8% yoy, terdiri… Read More