Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: Erman Subekti)
Jakarta – Berbagai tantangan ekonomi global mulai muncul buntut kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Salah satunya adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut, bahkan sudah melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang sebesar Rp16.000 per dolar AS.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPR RI, Adies Kadir, mengungkapkan bahwa sepanjang 2024 rupiah terdepresiasi sebesar 4,16 persen. Pada awal 2025, pelemahan ini berlanjut. Pada 4 Januari 2025, tercatat nilai rupiah berada di level Rp16.435 per dolar AS, melebihi asumsi APBN 2025.
“Beberapa hari terakhir pelemahan berlanjut hingga menyentuh kisaran Rp16.435/USD atau sudah di atas asumsi APBN sebesar Rp16.000. Kiranya penting dan perlu sinergi dan koordinasi otoritas fiskal moneter dan sektor keuangan serta otoritas terkait lainnya yang melahirkan kebijakan yang mitigasi terhadap risiko tekanan nilai tukar,” katanya, dikutip Kamis, 6 Februari 2025.
Baca juga : Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Pengaruhi Industri Reasuransi? Ini Jawaban Bos Indonesia Re
Sebelumnya, Adies sempat menyinggung kebijakan Trump seperti kenaikan tarif impor, pemotongan pajak, dan perubahan kebijakan imigrasi. Menurutnya, kebijakan tersebut turut memberikan dampak besar pada ekonomi global.
“Mengingat Amerika Serikat merupakan mesin ekonomi keuangan yang besar, kebijakan-kebijakan dan implikasi sebagaimana saya uraikan tadi tentu saja akan mempengaruhi ekonomi dan keuangan berbagai negara tidak terkecuali Indonesia,” jelas politisi Fraksi Partai Golkar tersebut.
Selain itu, menurutnya, kebijakan moneter yang diterapkan oleh AS – termasuk suku bunga tinggi dari Bank Sentral Amerika (The Fed) yang diperkirakan akan berlangsung lebih lama – juga berpengaruh pada nilai tukar rupiah.
Baca juga : Rupiah Diproyeksi Menguat Setelah Trump Tunda Kebijakan Tarif
Adies menambahkan bahwa kebijakan ini dimaksudkan untuk memperkuat nilai dolar terhadap mata uang negara lain, yang pada gilirannya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
“Tanggal 30 Januari lalu Bank Sentral Amerika Serikat tetap menahan tingkat suku bunga bank sentral di kisaran 4,25 sampai 4,5 persen dengan pertimbangan antara lain inflasi yang kembali merambat menjadi 2,9 persen pada Desember 2024,” ungkapnya.
Kebijakan lain yang tak kalah kontroversial dan mewarnai dinamika ketidakpastian global adalah keluarnya Amerika Serikat dari keanggotaan Paris Agreement dan World Health Organization (WHO). Hal ini diperkirakan akan memperlambat konsensus global terkait perubahan iklim serta ekonomi hijau atau green economy. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More