Poin Penting
Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI, Andi Yuliani Paris menegaskan pentingnya pengawasan terhadap subsidi bahan bakar minyak (BBM) agar kebijakan kompensasi pemerintah benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.
Menurutnya, salah satu tugas Komisi XI DPR RI adalah memastikan subsidi dan kompensasi BBM tepat sasaran, sehingga pengawasan distribusi oleh Pertamina dan operator di lapangan harus berjalan efektif.
“Pertama, karena ini di Komisi XI, di mana Komisi XI ini mengawasi sejauh mana subsidi dan kompensasi itu tepat sasaran. Salah satu hal yang dikelola Pertamina adalah subsidi bahan bakar minyak dan gas,” ujar Andi, dikutip laman DPR, Senin, 8 Desember 2025.
Baca juga: Dipasok Pertamina, SPBU Vivo Kembali Jual BBM Revvo 92
Ia menambahkan, subsidi energi memiliki dampak fiskal yang besar. Oleh sebab itu, penyimpangan dalam penyaluran kepada penerima yang tidak berhak dapat berpengaruh terhadap perhitungan kompensasi pemerintah.
“Tentunya kita berharap bahwa subsidi yang diberikan oleh pemerintah dan kompensasi itu tepat sasaran,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, Andi meminta Pertamina memperkuat pengawasan terhadap SPBU, SPBE, agen LPG, dan seluruh jaringan penjualan energi bersubsidi sehingga kuota benar-benar digunakan sesuai alokasinya. Ia mengingatkan agar tidak terjadi penyaluran BBM dan LPG subsidi kepada kelompok masyarakat yang tidak berhak.
“Kita harapkan kerja sama, di mana pengawasan dari Pertamina kepada SPBU, kemudian SPBE, SPBU compact dan agen-agen yang menjual gas dan BBM betul-betul menggunakan alokasinya secara tepat kepada penerima subsidi. Jadi jangan sampai subsidi yang diberikan oleh pemerintah tidak tepat,” katanya.
Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Andi turut mengingatkan potensi peningkatan kebutuhan BBM transportasi dan LPG rumah tangga, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke Bali. Ia menilai, lonjakan aktivitas memasak di rumah tangga berpotensi menambah kebutuhan LPG, baik bersubsidi maupun non-subsidi.
“Biasanya jumlah wisatawan di Provinsi Bali meningkat dan tentunya perlu diperhatikan kecukupan bahan bakar untuk transportasi dan juga LPG untuk rumah tangga. Kegiatan rumah tangga akan meningkat,” jelasnya.
Baca juga: Viral BBM “Bobibos”, DPR Dorong Uji Ilmiah dan Regulasi
Selain itu, Andi menyinggung penggunaan solar dan biodiesel bagi angkutan logistik serta truk pengangkut kebutuhan pokok. Meskipun konsumsi biosolar disebut mengalami penurunan, ia menilai tetap diperlukan pengaturan yang jelas agar pemanfaatannya tidak mengganggu alokasi subsidi.
“Kadang-kadang ini harus ada komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat bahwa yang tidak berhak jangan menggunakan solar biodiesel yang subsidi,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa BBM non-subsidi harus diarahkan bagi pengguna yang memang tidak termasuk penerima bantuan energi pemerintah.
Andi berharap tidak terjadi kelangkaan BBM maupun LPG, terutama di wilayah destinasi wisata dengan potensi peningkatan mobilitas masyarakat.
“Tentunya kita berharap tidak ada lagi kelangkaan LPG, kemudian yang tidak berhak jangan pakai LPG yang subsidi, kemudian ketersediaan BBM di titik-titik di mana pariwisata kita semakin meningkat,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Program UOB My Digital Space merupakan bagian dari inisiatif regional yang bertujuan mengentas kesenjangan digital… Read More
Oleh Paul Sutaryono INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas 8 persen berturut-turut pada Rabu,… Read More
Poin Penting FTSE Russell tunda review indeks Indonesia periode Maret 2026 di tengah proses reformasi… Read More
Poin Penting Mandiri Sekuritas menggelar Capital Market Forum 2026 bertema Accelerating Quality Growth untuk mempertemukan… Read More
Poin Penting Outstanding Flexi Mitra Mabrur Bank Mega Syariah tumbuh lebih dari 180 persen yoy… Read More
Poin Penting Laba BSI tumbuh 8,02 persen yoy menjadi Rp7,57 triliun pada 2025, ditopang pembiayaan… Read More