Categories: Analisis

DPR: Pelemahan Rupiah Di Luar Kendali

Pelemahan rupiah banyak dipengaruhi faktor ekstenal, sehingga berada di luar kendali. DPR ajak bersiap hadapi krisis. Apriyani Kurniasih.

Jakarta—Dewan Perwakilan Rakyat memanggil Bank Indonesia (BI) untuk membahas kondisi ekonomi terkini. Selain pelambatan pertumbuhan ekonomi, masalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pun tak luput menjadi perhatian DPR.

“Tentu apa yang akan disampaikan oleh Gubernur BI, akan menjadi perhatian kami. Apa yang dialami ekonomi Indonesia saat ini, akibat dari kondisi dunia. Kita akan mencari jalan keluar bersama, antara DPR dan Pemerintah,” kata Setya Novanto, Ketua DPR.

Sementara itu, Fadli Zon, Wakil Ketua DPR mengatakan, pihaknya sudah mendengar langsung dari Gubernur BI terkait bagaimana pandangan dan apa yang sudah dilakukan BI dalam menghadapi situasi ekonomi sekarang ini. Termasuk bagaimana BI membaca faktor eksternal dan internal dan respon atau intervensi terhadap kondisi saat ini.

Selain itu, lanjut Fadli, ada juga diskusi sampai sejauh mana pelemahan nilai tukar rupiah. Kita mengakui, faktor-faktor eksternal itu memang banyak di luar kendali sehingga sulit untuk memprediksi. Walaupun dari data-data yang ada, dari sisi inflasi, cadangan devisa, masih relatif kuat dan bagus. Tetapi soal Surat Utang, faktor The Fed, dan devaluasi Yuan, ini di luar kendali,” papar Fadli.

“Perlu ada perlu koordinasi banyak lembaga. Lembaga-lembaga ini harus duduk bersama dengan Presiden” imbuh Fadli.

Fadli Zon pun menyarankan untuk tidak menyajikan prediksi yang tidak mepunyai dasar. Ia pun mengajak untuk menghadapi (perlembatan) ini secara konservatif. “Lebih bagus kita menghadapi satu krisis, daripada menganggap ini bisa kita handle, tapi kenyataannya tidak bisa. Jadi lebih bagus kita mempersiapkan itu,” tambahnya.

Untuk menghadapi kondisi ekonomi yang kurang bersahabat ini, pemerintah perlu mengerahkan potensi dalam negeri. Hal itu perlu dilakukan agar kondisi domestik bisa bertahan terhadap arus kirisis yang sudah melanda secara global.

“Kita memiliki potensi. Misalnya bagaimana proses percepatan penyerapan anggaran, dimana saat ini masih rendah. Itu salah  satu masalah. Dimana letak koordinasi agar penyerapan anggaran ini lebih cepat,” tutur Fadli Zon lagi.

Fadli juga berharap, sektor-sektor nasional lain tetap dapat berkembang tanpa terkena imbas krisis ini. “Yang menajdi concern adalah buruh dan kekuatan perusahaan. Tentunya, perlu ada kebijakan yang pro kepada pertumbuhan” pungkas Fadli

Apriyani

Recent Posts

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

42 mins ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

5 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

13 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

14 hours ago

UMP 2026 Tuai Pro Kontra, Kadin Tekankan Pentingnya Jaga Daya Saing Indonesia

Poin Penting Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai penetapan UMP 2026 memiliki pro dan… Read More

14 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

15 hours ago