Moneter dan Fiskal

DPR: Kenaikan BBM jadi Efek Bola Salju Inflasi Daerah

Jakarta – Pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi berangsur membaik, hal ini ditandai dengan konsumsi rumah tangga dan indikator lainnya yang semakin meningkat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal-II 2022 yang tercatat mencapai 5,44% secara yoy.

Namun, disisi lain inflasi terus meningkat disebabkan belum seimbangnya peningkatan permintaan dan pemulihan kapasitas produksi dari sisi penawaran. Terlebih, perang antara Rusia dan Ukraina juga telah menyebabkan terganggunya rantai pasok global yang berakibat pada krisis energi dan pangan di seluruh dunia.

“Selama beberapa bulan lamanya APBN kita telah mencoba bertahan menghadapi lonjakan harga minyak mentah dunia yang meroket di atas US$100 per barel. DPR RI telah beberapa kali menyetujui penambahan anggaran subsidi energi Tahun 2022 menjadi total Rp502 triliun, namun anggaran itu masih belum mampu menahan harga BBM di masyarakat,” ujar Muhidin M. Said, Anggota DPR RI Komisi XI DPR-RI, Senin, 31 Oktober 2022.

Sehingga, lanjutnya pemerintah terpaksa menaikan harga BBM bersubsidi menjadi Rp10.000 per liter. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran yang akan menciptakan efek bola salju terhadap kenaikan harga-harga barang dan jasa.

“Harga BBM tergolong dalam komponen harga yang diatur pemerintah namun memiliki pengaruh yang besar terhadap komponen volatile food atau komponen harga bergejolak yang di dominasi komoditas pangan,” kata Muhidin.

Kemudian, kenaikan laju inflasi sangat terasa di Provinsi Sulawesi Tengah, hal itu terlihat dari angka inflasi bulan September 2022 yang mencapai 6,73% secara yoy atau lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 5,95%. Angka inflasi ini disumbang terutama oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi sebesar 6,94% pada sektor pangan.

“Kenaikan harga terlihat pada komoditas telur ayam ras dan ikan cakalang. Dua komoditas ini merupakan kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di lapisan ekonomi atas hingga paling bawah,” jelasnya.

Untuk itu, lanjutnya, DPR RI mengapresiasi serta menyambut baik langkah pemerintah bersama Bank Indonesia menggelar Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di seluruh penjuru nusantara karena pangan merupakan kebutuhan pokok yang paling mendasar bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain itu, agar bisa menjaga stabilitas harga supaya tetap terjangkau oleh masyarakat lapisan terbawah sekalipun. (*) Irawati.

Apriyani

Recent Posts

Moody’s Turunkan Outlook Indonesia, BI Tegaskan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Poin Penting BI menilai penurunan outlook Moody’s tidak mencerminkan pelemahan ekonomi domestik. Stabilitas sistem keuangan… Read More

4 hours ago

Bantah Terkait Dugaan Kasus Pidana Pasar Modal, Berikut Klarifikasi Lengkap BUVA

Poin Penting PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menegaskan tidak memiliki keterlibatan, baik langsung maupun… Read More

4 hours ago

Ekonomi RI Tumbuh 5,11 Persen, Celios: Dari Mana Sumber Pertumbuhannya?

Poin Penting Celios pertanyakan pertumbuhan PDB 5,11 persen dipertanyakan, pasalnya konsumsi rumah tangga & PMTB… Read More

5 hours ago

Purbaya Lantik 43 Pejabat Pajak dan DJA, Ini Daftar Lengkapnya

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melantik 40 pejabat eselon II di DJP dan… Read More

6 hours ago

Laba BCA Digital Melonjak 98 Persen Jadi Rp213,4 Miliar di 2025

Poin Penting BCA Digital raih laba Rp213,4 miliar, ditopang DPK Rp14,3 triliun (+22%) dan kredit… Read More

6 hours ago

OJK Targetkan Kredit Tumbuh 12 Persen di 2026, Begini Tanggapan Bankir

Poin Penting Pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan 10–12 persen, lebih tinggi dari target 2025 sebesar 9–11… Read More

8 hours ago