Ki-ka : Co-Founder Rekosistem Ernest dan CEO ALVAboard Alden Lukman. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – ALVAboard, unit bisnis Alva Group di sektor manufaktur solusi kemas, menjalin kemitraan strategis dengan Rekosistem dalam pengelolaan material sampah kemasan.
Kolaborasi ini dilatarbelakangi meningkatnya volume sampah kemasan seiring pertumbuhan sektor logistik dan e-commerce di Indonesia. Tanpa sistem terintegrasi, limbah tersebut berpotensi menambah beban tempat pembuangan akhir (TPA) dan memperpanjang dampak pencemaran lingkungan
Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan membangun sistem pengelolaan sampah yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.
Baca juga: Queen Máxima Apresiasi Inovasi BTN Bayar Cicilan KPR Pakai Sampah
Sebagai produsen solusi kemasan berbasis corrugated plastic untuk kebutuhan industri, ALVAboard menilai tanggung jawab perusahaan tidak berhenti pada tahap produksi dan distribusi. melainkan hingga fase pasca-pemakaian.
Dengan kerja sama ini, sampah kemasan ALVAboard, baik dari proses produksi maupun distribusi akan disetorkan dan dikelola melalui sistem Rekosistem. Material yang terkumpul dipilah, dicatat, dan diproses untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali sesuai standar pengelolaan.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kebutuhan bahan baku baru, menekan volume limbah, serta berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon.
CEO ALVAboard, Alden Lukman, mengatakan pihaknya ingin memastikan material tidak berakhir sebagai limbah, tapi bisa digunakan kembali dalam siklus produksi.
“Inisiatif ini juga menjadi bagian dari komitmen kami untuk berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan, yang akan terus kami kembangkan dan ukur seiring dengan peningkatan skala program ke depannya,” kata Alden dalam keterangan resmi, Rabu, 25 Februari 2026.
Memanfaatkan jaringan pengumpulan dan fasilitas pemulihan material milik Rekosistem, sampah kemasan ALVAboard yang disetorkan akan tercatat dalam sistem dan diproses sesuai standar pengelolaan. Pendekatan berbasis teknologi ini mendukung agar material dapat dikelola dengan lebih terpantau.
Co-founder Rekosistem, Ernest, menegaskan kolaborasi ini dirancang sebagai sistem berkelanjutan, bukan sekadar program.
Setiap kemasan yang disetorkan tercatat, terlacak, dan diproses dalam alur pengelolaan daur ulang yang terintegrasi.
“Bersama ALVAboard, kami ingin memastikan material tidak berhenti sebagai sampah, tetapi kembali masuk ke siklus produksi melalui mekanisme yang terukur dan berkelanjutan,” ujarnya.
Baca juga: Masuk Pasar Asuransi Kesehatan, Roojai Tawarkan Produk Berkonsep Perlindungan Modular
Dengan sistem ini, laporan terkait volume sampah yang dikelola, serta potensi pengurangan emisi menjadi lebih akurat, sehingga akan memperkuat implementasi prinsip environmental, social, and governance (ESG).
Di luar itu, ALVAboard menegaskan kampanye ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam mendorong sistem produksi dan distribusi yang lebih bertanggung jawab.
Untuk mendorong partisipasi, program ini menawarkan insentif bagi pelanggan. Untuk penyetoran plastik keras, pelanggan akan menerima Rp600 per kilogram. Khusus material kemasan ALVAboard, insentifnya bisa mencapai Rp2.000 per kilogram, termasuk tambahan insentif Rp1.400 per kilogram, sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendorong praktik ekonomi sirkular. (*) Ari Astriawan
Poin Penting BI tetap siaga memantau rupiah selama libur Lebaran, termasuk melalui pasar offshore meski… Read More
Poin Penting BI tidak lagi memberi sinyal penurunan suku bunga akibat meningkatnya risiko global dari… Read More
Kerjasama ini juga membuka ruang bagi pengembangan bisnis terutama inisiatf mendukung program pemerintah dalam pengembangan… Read More
Poin Penting PT Bank Maybank Indonesia Tbk memperkuat pembiayaan SME syariah sebagai pilar utama pengembangan… Read More
Poin Penting PT Kereta Api Indonesia (Persero) menetapkan tarif maksimal LRT Jabodebek sebesar Rp10.000 selama… Read More
Poin Penting Anggota Komisi II DPR RI Ali Ahmad menilai wacana pemotongan gaji pejabat yang… Read More