Papan Kurs; Rupiah menguat. (Foto: Paulus Yoga)
Jakarta–Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini (10/3) diperkirakan masih berpeluang untuk menguat, sejalan dengan laju Dolar AS yang masih lemah di Asia.
Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta mengatakan, menguatnya laju Rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal baik dari global maupun domestik. Sehingga, faktor-faktor tersebut telah memberikan sentimen positif pada rupiah.
“Faktor global seperti harapan stimulus oleh ECB (European Central Bank) diperkirakan mampu mengangkat optismisme di pasar keuangan Asia,” ujar Rangga dalam risetnya, di Jakarta, Kamis, 10 Maret 2016.
Sementara dari faktor domestik, kenaikan cadangan devisa sebesar US$2,4 miliar menjadi US$104,5 miliar yang telah diumumkan Bank Indonesia (BI) juga ikut memberikan sentimen positif pada laju Rupiah yang diperkirakan menguat.
Menurutnya, kenaikan cadangan devisa yang seharusnya meningkatkan kepercayaan diri investor, namun para investor melihatnya sebagai usaha dari BI yang tidak menginginkan Rupiah menguat terlalu cepat dalam waktu singkat.
Sedangkan pergerakan Rupiah pada Selasa sore (8/3), Rupiah mengalami tekanan ketika Dolar AS kembali bergerak positif di pasar Asia. Namun, mayoritas kurs di Asia menguat terhadap Dolar AS pada perdagangan Rabu di saat pasar keuangan Indonesia tutup. (*)
Editor: Paulus Yoga
Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More
PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More
Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More