News Update

Ditengah Pengetatan Likuditas, Ini Tantangan Perbankan Kedepan

Jakarta- Ditengah pengetatan likuiditas, perbankan nasional saat ini dinilai masih akan menghadapi beberapa tantangan global diantaranya ialah penerapan standar Basel III yang akan diterapkan pada tahun 2019 mendatang dimana beberapa indikator harus dipenuhi bank di Indonesia terkait implementasi aturan internasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Senior Economist Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero pada seminar Infobank dengan tema “Peta Kekuatan Permodalan Perbankan Nasional di Tengah Ancaman Krisis” di Financial Club. Poltak menyebut, perbankan nasional harus memperhatikan permodalan mereka.

“Beberapa tantangan pertama penerapan Basel 3, perbankan harus memperbaiki pendanaan mereka,” kata Poltak di Financial Club Jakarta, Selasa 23 Oktober 2018.

Poltak menambahkan, perbankan harus lebih selektif terhadap pendanaan mereka agar tidak menggangu permodalan. Dirinya menyebut, saat ini tren pendanaan lebih banyak pada tenor jangka pendek. “Oleh karena itu, perbankan harus perbaiki management untuk salurkan pendanaan ke tenor jangka panjang,” tambah Poltak.

Selain itu, perbankan juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi pasar bebas ASEAN dimana bank-bank nasional harus memperbaiki dan meningkatkan kinerja, terutama dari sisi struktur pendanaan agar mampu bersaing dengan negara tetangga.

Selain itu, tantangan ketiga ialah kompetisi pada iklim hasil bunga bersih (net interest margin/NIM) yang semakin menurun semakin tahun .

“Penurunan NIM masih menjadi tantangan, namun saat ini NIM Indonesia masih tertinggi di dunia. Karena NIM Indonesia 5,5 persen sementara Filipina 3 persen, dan Singapura 1,8 persen jadi kalau ini pasar terbuka 2020 maka derajat penyusutan NIM semakin besar di negara,” kata Poltak.

Sebagai informasi, NIM perbankan cenderung turun sebab suku bunga deposito bank naik lebih dulu dibandingkan dengan bunga kredit. Namun, ada faktor lain yang akan berpengaruh terhadap NIM, misalnya biaya dana (cost of fund) perbankan dan pertumbuhan kredit.

Selain itu, posisi Loan to Deposit Ratio (LDR) bank umum secara industri pada Juli 2018 jiha mengalami peningkatan menjadi 93,11 persen dibanding LDR di bulan sebelumnya yang sebesar 92,13 persen. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai, kondisi LDR perbankan yang terus mengalami peningkatan tersebut telah mendorong risiko pengetatan likuiditas ikut meningkat di tengah tren kenaikan suku bunga simpanan dan membaiknya penyaluran kredit. (*)

Suheriadi

Recent Posts

GoPay Kini Bisa Tarik Tunai Tanpa Kartu di ATM BRI dan Bank BJB, Ini Caranya

Poin Penting GoPay kini bisa tarik tunai tanpa kartu di seluruh ATM BRI dan Bank… Read More

12 hours ago

Animo Tinggi, BRI Kanwil Jakarta II Tambah Kuota Mudik Gratis jadi 2.750 Pemudik

Poin Penting BRI Kanwil Jakarta II menambah kuota mudik gratis menjadi 2.750 pemudik dengan 55… Read More

12 hours ago

Proteksi Pemudik 2026, BRI Life Andalkan Produk Asuransi Digital MODI

Poin Penting BRI Life menghadirkan asuransi digital MODI-MOtraveling untuk melindungi pemudik Lebaran 2026 dari risiko… Read More

12 hours ago

Adira Finance Lepas 300 Pemudik ke Solo dan Yogyakarta, Dapat Cek Kesehatan dan Asuransi

Poin Penting Adira Finance memberangkatkan 300 pemudik dari Jabodetabek menuju Solo dan Yogyakarta melalui program… Read More

13 hours ago

BI Borong SBN Rp86,16 Triliun hingga Maret 2026, Buat Apa?

Poin Penting Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026,… Read More

14 hours ago

BI Tegaskan Beli Tunai Dolar AS Tak Dibatasi, Ini Aturan Barunya

Poin Penting BI menegaskan tidak membatasi transaksi valuta asing, tetapi memperketat kewajiban dokumen underlying untuk… Read More

14 hours ago