Categories: Moneter dan Fiskal

Dirjen Pajak : 2015, Penerimaan Pajak Diprediksi Hanya Tumbuh 10%

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang lesu, dimana pada kuartal II 2015 ekonomi hanya mampu tumbuh 4,67%, tentu akan berdampak keepada target penerimaan pajak yang terlalu tinggi. Rezkiana Nisaputra

Jakarta – Ditengah perlambatan ekonomi nasional saat ini, penerimaan pajak yang ditargetkan sebesar Rp1.294 triliun atau naik 30% di 2015 diperkirakan akan sulit tercapai, meski pemerintah optimis bahwa target penerimaan pajak akan tercapai sesuai dengan target.

Menurut Dirjen Pajak, Sigit Priadi Pramudito, ekonomi nasional yang diperkirakan hanya tumbuh di kisaran 5%, akan menghambat penerimaan pajak yang di targetkan naik 30%. Dia mengungkapkan, dengan melihat pertumbuhan ekonomi saat ini, penerimaan pajak tahun ini diperkirakan hanya akan naik 10%.

“Kalau pertumbuhan ekonomi hanya di 5%, maka pajak kita hanya akan tumbuh 10% persen. Inilah PR (Pekerjaan Rumah) kami, bagaimana mencapai ini,” ujar Sigit, di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2015.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, apa yang terjadi dalam 5 tahun terakhir, mulai 2013 pertumbuhan penerimaan pajak selalu tumbuh di bawah Gross Domestic Product (GDP), pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan tidak diimbangi dengan penerimaan pajak Indonesia.

“Something wrong disitu. Harusnya minimal sama dengan GDP. Kalau pajak berhasil menarik pertumbuhan ekonomi dalam bentuk pajak. Bahkan 2014 turun, 2013 juga turun,” tukas Sigit.

Seharusnya, pertumbuhan pajak dapat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, dan bukan malah tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. “Ada yang salah, kok kita gak bisa menarik pajak dari pertumbuhan ekonomi, banyak golongan menengah dan kaya yang gak mampu menarik ini. Ini PR kita bersama,” ucapnya.

Sedangkan realisasi penerimaan pajak sampai dengan akhir Juli 2015 baru mencapai Rp534,8 triliun, atau masih jauh dari target pajak yang ditetapkan dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2015 yang sebesar Rp1.294 triliun. Penerimaan pajak paling besar berasal dari penerimaan pajak non migas yang mencapai Rp503,4 triliun.

Dari penerimaan pajak non migas yang mencapai Rp503,4 triliun itu, porsi terbesar bersumber dari pajak penghasilan (PPh) non migas yakni Rp294,1 triliun, sementara dari Pajak Pertambahan Nilai (PPn) berkontribusi sebesar Rp205,7 triliun. Lalu Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sudah terealisasi sebesar Rp 600 miliar, dan pajak lainnya Rp3 triliun.

Dari PPh migas, ‎realisasinya sudah mencapai Rp31,4 triliun atau 63,3% dari target dalam APBN-P 2015. Untuk Bea dan Cukai, sudah terealisasi sebesar Rp86,2 triliun atau 44,2% dari target dalam APBN-P 2015 yang sebesar Rp195 triliun. (*) @rezki_saputra

Apriyani

Recent Posts

OJK Targetkan Kredit Perbankan Tumbuh hingga 12 Persen di 2026

Poin Penting OJK memproyeksikan kredit perbankan 2026 tumbuh 10–12 persen, lebih tinggi dibanding target 2025… Read More

17 mins ago

Kekerasan Debt Collector dan Jual Beli STNK Only Jadi Alarm Keras Industri Pembiayaan

Poin Penting Kekerasan debt collector dan maraknya jual beli kendaraan STNK only menggerus kepercayaan publik,… Read More

1 hour ago

OJK Wanti-wanti “Ormas Galbay” dan Jual Beli STNK Only Tekan Industri Pembiayaan

Poin Penting OJK menegaskan peran penagihan penting menjaga stabilitas industri pembiayaan, namun wajib diatur rinci,… Read More

2 hours ago

Sidak Industri Baja, Purbaya Kejar Potensi Tunggakan Pajak Rp500 Miliar

Poin Penting Menkeu Purbaya sidak dua perusahaan baja di Tangerang yang diduga menghindari pembayaran PPN… Read More

2 hours ago

Bank Mandiri Catat Pembiayaan Berkelanjutan Rp316 Triliun Sepanjang 2025

Poin Penting Pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp316 triliun pada 2025, tumbuh 8% yoy, terdiri… Read More

3 hours ago

Pembiayaan Multifinance 2025 Lesu, OJK Ungkap Biang Keroknya

Poin Penting Aset industri pembiayaan 2025 terkontraksi 0,01 persen, dengan pertumbuhan piutang hanya 0,61 persen,… Read More

3 hours ago