Diimpit Himbara dan BPR, Bank Lampung Sulit Bersaing di Kandang Sendiri

Diimpit Himbara dan BPR, Bank Lampung Sulit Bersaing di Kandang Sendiri

Diimpit Himbara dan BPR, Bank Lampung Sulit Bersaing di Kandang Sendiri
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – PT Bank Pembangunan Daerah Lampung (Bank Lampung) belum bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Hal ini tercermin dari penyaluran kredit perbankan di Provinsi Lampung yang dikuasai oleh bank himbara. Kredit Bank Lampung bahkan masih kalah oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan di Lampung pada Maret 2022 dikuasai bank-bank milik negara (BUMN). Bank BRI menjadi yang teratas dengan total kredit Rp18,97 triliun, disusul Bank Mandiri Rp10,33 triliun. Yang agak mengejutkan, BPR Eka Bumi Artha menempati posisi ketiga dengan total kredit Rp7,64 triliun. Kendati berstatus sebagai BPR, penyaluran kredit BPR Eka mampu mengungguli Bank Lampung. Sementara, kredit Bank Lampung tercatat Rp5,94 triliun naik 9,17% (yoy).

Bank Lampung tahun ini masih tetap akan berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Berdasarkan laporan tahunan Bank Lampung 2021, penyaluran kredit bank ini hingga akhir 2022 ditargetkan tumbuh 8,05%, lebih rendah dari capaian 2021 dengan komposisi kredit konsumtif 3,15% dan kredit produktif 36,39%.

Selain dari sisi kredit, Bank Lampung harus berusaha keras memenangkan persaingan yang ketat dalam menghimpun dana murah. Per Maret 2022 rasio dana mahal Bank Lampung masih mendominasi. Deposito meningkat signifikan hingga 49,12%. Alhasil, dari total DPK Rp10,10 triliun, dana mahal perseroan mencapai Rp5,69 triliun atau setara dengan 56,41% dari total DPK.

Direktur Utama Bank Lampung, Presley Hutabarat, pada sebuah kesempatan mengatakan bahwa untuk menggenjot dana murah dan penyaluran kredit, Bank Lampung mengandalkan agen Laku Pandai dan aplikasi mobile banking: Lampung Smart. Presley menargetkan Bank Lampung bisa memiliki 3.000 agen Laku Pandai di 2022.

“Agen Laku Pandai akan saya buat sebagai pagar saya untuk mengamankan dana murah. Kami tidak boleh hanya mengandalkan giro pemda. Harapannya, CASA kami bisa mencapai 60%-65%,” ujar Presley kepada Infobank, beberapa waktu lalu.

Saat ini Bank Lampung juga tengah mengalami penurunan kinerja laba. Per triwulan pertama 2022 laba bersih Bank Lampung tumbuh -15,36% menjadi Rp42,88 miliar. Ini menjadi sentilan bagi manajemen Bank Lampung. Pasalnya, saat industri BPD mampu membukukan pertumbuhan double digit, laba bank ini malah terkoreksi. Alhasil, para pemegang saham Bank Lampung harus sedikit bersabar karena return on equity (ROE) bank ini merosot dari 18,03% menjadi 14,19%.

Pekerjaan rumah lain yang menghantui Bank Lampung adalah soal permodalan. Sesuai dengan ketentuan OJK, BPD harus memiliki modal inti sedikitnya Rp3 triliun pada 2024. Sementara, hingga Maret 2022, modal inti Bank Lampung tercatat Rp1,19 triliun.

Ketika dihubungi Infobank, Presley mengatakan bahwa saat ini belum bisa menjelaskan mengenai strategi Bank Lampung dalam memenuhi ketentuan modal. “Kalau tentang pemenuhan modal inti, harus selesai kajian kami dulu, baru bisa kami jelaskan,” ujarnya melalui pesan singkat, medio Mei lalu. (*) Dicky F.

Baca selengkapnya di Majalah Infobank No.530, edisi Juni 2022. Klik untuk berlangganan

Sirkulasi Infobank atau Infobankstore

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]