Keuangan

Dibayangi Ketidakpastian, AdaKami ‘Pede’ Bisnis Fintech Lending Tetap Tumbuh

Jakarta – Dunia sedang panas, dilanda berbagai peristiwa ekonomi dan geopolitik. Kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) berpotensi menjadi perang dagang jilid 2 dengan Tiongkok. Situasi di Timur Tengah juga tidak kunjung stabil.

Karissa Sjawaldy, Chief of Public Affairs PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami), mengakui kalau peristiwa yang terjadi di dunia global akan memengaruhi industri fintech lending dalam negeri. Ini ditambah dengan situasi dari luar negeri yang berdampak pula terhadap ekonomi Tanah Air.

“Daya beli masyarakat itu kan turun. Dan ketika hal ini terjadi, orang untuk mencari modal Itu juga akhirnya kesusahan. Dan akhirnya, untuk spend membeli sesuatu pun juga susah,” jelas Karissa di Jakarta pada Kamis, 12 Desember 2024.

Baca juga: Awal Desember 2024, AdaKami Salurkan Pinjaman Rp13,24 Triliun
Baca juga: OJK Beberkan 3 Tantangan Besar Industri Fintech di Masa Depan

Meskipun begitu, Karissa ingin tetap optimis melihat industri fintech lending untuk terus bertumbuh di masa-masa sulit ini. Apalagi, pasarnya masih sangat besar bagi para pemain untuk menemukan nasabah yang belum terjamah.

Sebagai informasi, temuan AdaKami menunjukkan, ada lebih dari 95 juta penduduk Indonesia yang belum mendapat akses finansial. Ada pula kredit gap sebesar Rp1.650 triliun bagi mereka yang sudah punya akses kredit dengan yang belum.

“Selama angka itu masih besar, meskipun ada kondisi makro ekonomi global yang pastinya akan berpengaruh ke kondisi ekonomi di Indonesia, minat dari lender pun akan masih tinggi, untuk men-channelling funding mereka ke borrower yang berkualitas,” ungkap Karissa.

Dengan demikian, AdaKami akan mengambil peran untuk menjadi “matchmaker” bagi lender dan borrower. Karissa juga mengungkapkan, keinginan AdaKami untuk mendukung kebijakan pemerintah, khususnya pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicita-citakan Presiden Prabowo Subianto.

“AdaKami akan terus mendukung program dan visi pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen. Kami akan terus memperluas potential lender kami,” tutupnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Recent Posts

Bank Mandiri Hadirkan Program Berbagi Takjil di Menara Mandiri Sudirman

Poin Penting Bank Mandiri sediakan berbuka puasa di Menara Mandiri lewat Livin’ by Mandiri. Program… Read More

18 mins ago

Bank OCBC NISP Mau Buyback Saham Rp1 Miliar, Ini Tujuannya

Poin Penting Bank OCBC NISP rencanakan buyback saham Rp1 miliar untuk remunerasi variabel manajemen dan… Read More

33 mins ago

BGN Janji Tindaklanjuti Menu MBG Ramadan yang Melenceng dari Anggaran

Poin Penting BGN siap menindaklanjuti laporan masyarakat terkait polemik menu MBG Ramadan. Anggaran bahan baku MBG ditetapkan Rp8.000–Rp10.000 per… Read More

37 mins ago

Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Januari 2026 Anjlok 14 Persen

Poin Penting Penerimaan kepabeanan dan cukai Januari 2026 tercatat Rp22,6 triliun (6,7 persen pagu APBN),… Read More

49 mins ago

KSPN Kritik Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India untuk Kopdes Merah Putih

Poin Penting Presiden KSPN Ristadi meminta Presiden Prabowo membatalkan rencana impor 105 ribu kendaraan untuk… Read More

59 mins ago

Insentif Ramadan-Lebaran Rp12,8 Triliun, DPR: Jangan Sekadar Stimulus Musiman

Poin Penting Pemerintah gelontorkan insentif Ramadan–Lebaran Rp12,8 triliun untuk jaga daya beli dan dorong konsumsi.… Read More

1 hour ago