Jakarta – Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan tertekan dengan mata uang negara lain hingga akhir tahun. Hal tersebut seiring dengan ketidakpastian global terutama pada suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed).
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto bahkan menyebut, nilai tukar rupiah masih akan dapat terdepresiasi hingga Rp14.700 perdollar hingga akhir tahun.
“Kemungkinan akhir tahun bisa saja akan depresiasi hingga Rp 14.700 perdollar hingga akhir tahun karena masih akan mengalami dinamika,” kata Eko di Kantor Indef Jakarta, Rabu 8 Agustus 2018.
Tak hanya itu, dirinya juga memperkirakan Bank Indonesia (BI) terlihat masih terus mencermati perkembangan kondisi pasar global terlebih The Fed diprediksi masih akan menaikkan suku bunga acuannya pada bulan September dan Desember mendatang.
Tak hanya itu, dirinya juga menyebut angka investasi dinilai masih berjalan lambat seiring dengan angka investasi pada triwulan II 2018 yang hanya mampu tumbuh diangka 5,87 persen (YoY).
Sebagai informasi, tercatat berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar AS (JISDOR), hari ini posisi mata uang Garuda menembus level Rp 14.439 per dolar AS, angka tersebut terlihat menguat tipis dibandingkan posisi kemarin yang masih di level Rp 14.485 per dolar AS. (*)
Poin Penting PT Asuransi Central Asia (ACA) telah membayarkan klaim sebesar USD 11,04 juta atas… Read More
PT Asuransi Central Asia (ACA) membayarkan klaim senilai USD 11,04 juta kepada PT PLN Batam,… Read More
Bank Mandiri secara konsolidasi berhasil mencatatkan kinerja solid di sepanjang 2025 tercermin dari penyaluran kredit… Read More
Jakarta – PT Bank CIMB Niaga Tbk membidik nilai transaksi hingga Rp45 miliar dalam penyelenggaraan Cathay… Read More
Poin Penting Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s hanya bersifat… Read More
Poin Penting WHO mencatat 74 persen kematian global disebabkan penyakit tidak menular, dengan 17 juta… Read More