News Update

DEN Nilai Stimulus Likuiditas Belum Mampu Dongkrak Kredit Perbankan

Poin Penting

  • Dewan Ekonomi Nasional mencatat kredit perbankan (termasuk BPR) hanya tumbuh 7,9 persen yoy, masih di bawah level 10 persen
  • Investasi jadi penopang yang tumbuh 17,8 persen, disusul konsumsi 7,2 persen dan modal kerja 5,7 persen
  • Sementara penempatan dana SAL Rp276 triliun di bank BUMN dan penurunan BI-Rate ke 4,75 persen dinilai belum efektif, diduga akibat lemahnya permintaan kredit.

Jakarta – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memberi tanggapan atas pertumbuhan kredit perbankan dalam negeri yang terbilang moderat.

Catatan DEN menunjukkan, pertumbuhan kredit perbankan, termasuk jika dikombinasikan dengan kredit milik bank perekonomian rakyat (BPR), berada di kisaran 7,9 persen secara year on year (yoy).

Kredit investasi menjadi penopang utama dari pertumbuhan kredit, dengan angka pertumbuhan 17,8 persen. Disusul dengan naiknya kredit konsumsi yang mencapai 7,2 persen, serta kredit modal kerja yang hanya tumbuh 5,7 persen.

Mari Elka Pangestu, Wakil Ketua DEN, menyebut kebijakan pemerintah masih belum memberi dampak maksimal terhadap pertumbuhan kredit. Salah satunya adalah penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank BUMN.

Baca juga: Kasus-Kasus Kriminalisasi Kredit Macet yang Membelit BPD

“Ada peningkatan likuiditas melalui penempatan dana SAL di perbankan. Ternyata, hal itu belum diterjemahkan menjadi peningkatan kredit,” kata Mari di webinar OJK Institute bertajuk Economic Outlook 2026, Kamis, 19 Februari 2026.

Di sekitar kuartal III 2025, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memang menempatkan dana SAL di 5 bank. Di antaranya Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BRI), Bank Syariah Indonesia (BSI), dan Bank Tabungan Negara (BTN) dengan total mencapai Rp276 triliun.

Menurut Mari, penempatan tersebut diharapkan mampu mendorong likuiditas. Namun efeknya belum begitu terasa dan memberi dampak bagi laju pertumbuhan kredit di Indonesia.

“Apakah masalah waktu? Pertumbuhan kredit masih di bawah 10 persen, (tepatnya) di 7,9 persen. Jadi belum kelihatan dapatnya kepada peningkatan kredit,” lanjut Mari.

Ia juga melihat penurunan suku bunga acuan (BI-Rate) Bank Indonesia (BI), sudah diturunkan sebanyak 6 kali sepanjang 2025. Per Desember 2025, BI-Rate berada di kisaran 4,75 persen.

Baca juga: Menata Ulang Kredit UMKM di Era Data dan Kepercayaan

Melihat kebijakan tersebut yang belum sepenuhnya berdampak terhadap kredit, Mari menduga ada permasalahan dari sisi demand kredit yang menurun. Hal ini buntut dari beberapa permasalahan ekonomi dalam negeri.

“Masalah supply sudah teratasi. Tapi, masalah demand untuk kredit ini mungkin ada kaitannya tentunya dengan pertumbuhan ekonomi, pelemahan daya beli, dan seterusnya,” jelasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Recent Posts

Bank Aladin Syariah Jaga Kualitas Pembiayaan Lewat Strategi Ekosistem

Poin Penting PT Bank Aladin Syariah Tbk fokus jaga kualitas pembiayaan lewat strategi ekosistem dan… Read More

56 seconds ago

Bos BRI Ungkap Alasan Kredit Perbankan Melambat di 2025

Poin Penting Pertumbuhan kredit perbankan 2025 melambat ke 9,69% (yoy), dipicu turunnya permintaan kredit konsumsi… Read More

20 mins ago

Tok! BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen

Poin Penting Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 4,75 persen, Deposit Facility 3,75 persen dan… Read More

35 mins ago

Sasar Nasabah Affluent, Prudential dan Standar Chartered Luncurkan PRUTreasure Dollar

Poin Penting Prudential dan Standard Chartered meluncurkan PRUTreasure Dollar, asuransi jiwa dwiguna berbasis USD yang… Read More

36 mins ago

Tanggapan Wakil Ketua DEN soal Penurunan Rating Moody’s dan Rebalancing Indeks MSCI

Poin Penting Penurunan outlook Moody’s jadi sinyal reformasi, Wakil Ketua DEN, Mari Elka Pangestu minta… Read More

44 mins ago

Usai Sanksi MKD, Ahmad Sahroni Resmi Balik Pimpin Komisi III DPR

Poin Penting Ahmad Sahroni kembali menjabat Wakil Ketua Komisi III DPR RI setelah sebelumnya dinonaktifkan… Read More

1 hour ago