Moneter dan Fiskal

Defisit APBN 2025 Tembus 2,92 Persen, Meleset dari Target

Poin Penting

  • Defisit APBN 2025 melebar menjadi Rp695,1 triliun atau 2,92 persen PDB, lebih tinggi dari outlook semester Rp662 triliun (2,78 persen), namun tetap dijaga di bawah batas aman 3 persen PDB.
  • Pendapatan negara tertahan, hanya mencapai Rp2.756,3 triliun (91,7 persendari outlook), sementara belanja negara terealisasi Rp3.451,4 triliun (95,3 persen)
  • Pemerintah tetap ekspansif namun hati-hati, tidak memangkas belanja meski tekanan global tinggi, sebagai bentuk stimulus ekonomi tanpa membahayakan kesinambungan APBN.

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) alami defisit hingga akhir 2025 sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit tersebut melebar dari outlook laporan semester yang ditargetkan hanya sebesar 2,78 persen dari PDB atau sebesar Rp662 triliun.

“Walaupun defisit membesar ke Rp695,1 triliun itu lebih tinggi dari target APBN yang Rp662 triliun, tapi kita tetap jaga pastikan bahwa defisitnya tidak diatas 3 persen, defisitnya memang naik ke 2,92 persen,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.

Baca juga: Kemenkeu Prioritaskan Ketahanan Pangan dalam APBN 2026

Menurut Purbaya, defisit yang melebar tersebut merupakan langkah pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian.

“Walaupun menggelembung kita pastikan di bawah 3 persen ini adalah standar yang paling ketat, jadi kita mengacu ke sana terus walaupun keadaan agak menekan kita,” ungkapnya.

Adapun keseimbangan primer juga mencatatkan defisit sebesar Rp180,7 triliun atau 285,3 persen terhadap APBN.

Kemudian, pendapatan negara hingga akhir Desember 2025 hanya mencapai Rp2.756,3 triliun atau setara 91,7 persen terhadap outlook APBN 2025.

Di sisi lain, realisasi belanja negara hingga Desember 2025 sebesar Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook 2025.

Hal tersebut mencerminkan belanja pemerintah terus diarahakan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan mendukung program prioritas.

Baca juga: Pemerintah Bisa Tarik Lebih Cepat Surplus BI untuk Pendanaan APBN

Purbaya menjelaskan, pemerintah tidak memotong belanja negara meski pendapatan negara masih jauh dari target. Menurutnya, hal itu dikarenakan agar defisit APBN tidak makin melebar.

“Tapi kita tahu kan, ketika ekonomi kita sedang mengalami down kita harus memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh secara berkesinambungan tanpa membahayakan APBN,” tambahnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

HSBC Resmikan Wealth Center di Surabaya, Begini Targetnya

Poin Penting HSBC membuka Wealth Center pertama di Surabaya, menjadi yang kelima di Indonesia dan… Read More

2 hours ago

Bank Muamalat Genjot Kembali Pembiayaan Emas Syariah

Gebrakan Bank Muamalat Genjot Pembiayaan Emas SyariahKepercayaan dan minat masyarakat yang tinggi terhadap emas sebagai… Read More

3 hours ago

BEI Pastikan Kenaikan Free Float ke 15 Persen Tak Ganggu Minat IPO

Poin Penting BEI berencana menaikkan aturan free float menjadi 15 persen secara bertahap untuk menyesuaikan… Read More

3 hours ago

KrediOne Perkuat Transformasi Digital, Fokus Layanan dan Perlindungan Konsumen

Poin Penting KrediOne memperkuat transformasi digital melalui sistem berbasis teknologi dan data untuk meningkatkan kualitas… Read More

3 hours ago

AXA Mandiri Luncurkan Produk Wealth Signature Berbasis Dolar AS, Ini Keuntungannya

Poin Penting AXA Mandiri meluncurkan Wealth Signature USD, asuransi dwiguna berbasis dolar AS yang menggabungkan… Read More

4 hours ago

Sawit Ilegal Ditertibkan, BKPM Dorong Solusi Jaga Pasokan Industri Hilir

Poin Penting BKPM khawatir penyitaan 4-5 juta ha lahan sawit ilegal pada 2026 berpotensi mengganggu… Read More

5 hours ago