Perbankan

DBS Pede Bisnis Wealth Management Tumbuh Double Digit di Semester II 2024

Jakarta – PT Bank DBS Indonesia membidik dana kelolaan atau asset under management (AUM) untuk bisnis wealth management tumbuh double digit pada 2024. Hal ini sejalan dengan outlook ekonomi global maupun nasional yang menunjukkan sinyal positif.

“Kalau dilihat dengan indikasi-indikasi perekonomian, baik itu sinyal terkait inflasi ataupun suku bunga, justru saya rasa kita semua optimis di semester kedua. Makanya kami percaya bahwa kita akan double digit growth,” kata Melfrida Gultom Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia dalam “editorial luncheon” bersama media di Jakarta, Senin, 22 Juli 2024.

Selain itu, kata Melfrida, segmen wealth management diyakini juga akan lebih berkembang ke depannya. Ini tak lepas dari jumlah masyarakat dengan jumlah nominal simpanan Rp500 juta ke atas di Indonesia tercatat terus meningkat.

“Kalau kita lihat semakin banyak orang punya dana Rp30 juta ke atas, semakin banyak pula orang-orang yang punya Rp500 juta ke atas. Jadi saya sih sangat optimis (pertumbuhan wealth management) tumbuh,” tambahnya.

Untuk itu, Bank DBS Indonesia terus memperluas ragam akses produk investasi yang ditawarkan kepada nasabah. Produk investasi yang dikeluarkan tentunya disesuaikan dengan peluang dan tantangan pasar.

“Ketika mau keluarin produk, kita memasukan unsur-unsur opportunity dan challenges. Jadi kita kurasi lagi produk yang mau kita keluarin. Kita bisa keluarin produk tematik, atau khusus,” ujarnya.  

Baca juga: DBS Ramal Kredit Tumbuh Positif Sepanjang 2024, Ini Pendorongnya

Menurutnya, produk investasi yang kini mulai diminati sekaligus potensial adalah yang berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG). Berdasarkan laporan berjudul “Asset and Wealth Management Revolution 2022” oleh PwC, AUM berorientasi ESG di Asia Pasifik dicanangkan akan tumbuh lebih dari tiga kali lipat atau mencapai USD3,3 triliun pada 2026

“Ini menunjukkan bertumbuhnya minat dan kesadaran masyarakat akan investasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Head of Segmentation & Liabilities PT Bank DBS Indonesia Natalina Syahbana menambahkan setiap segmen nasabah Bank DBS Indonesia memiliki kebutuhan dan engagement yang berbeda-beda.

“Nasabah “digibank by DBS” misalnya didominasi oleh kelompok muda yang berusia antara 20-30 tahun. Kalau nasabah “Treasures” rata-rata berasal dari kelompok usia 40 tahun ke atas dan “Treasures Private Client” berasal dari kelompok usia di atas 50 tahun,” jelasnya.

Adapun total dana kelolaan yang telah dihimpun Bank DBS Indonesia saat ini memiliki kontribusi 50-75 persen terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK).

“(Total dana kelolaan) 50 sampai 75 persen itu dari DPK, yang punya wealth management product,” ungkapnya.

Sepanjang 2023, total DPK Bank DBS Indonesia tercatat Rp84,27 triliun. Raihan DPK tersebut melonjak 16,64 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp72,25 triliun.

Riset Bank DBS Indonesia

Berdasarkan riset terbarunya, Bank DBS Indonesia menemukan adanya perubahan kebutuhan akan wealth atau manajemen kekayaan, salah satunya adalah pergeseran definisi wealth pada segmen affluent yang sebelumnya hanya mencakup finansial pribadi saat ini juga mencakup aspek finansial bisnis. Sehingga mitra manajemen kekayaan dituntut untuk memiliki visi dan kapabilitas yang mendukung kedua aspek tersebut.

Selain itu, studi Customer Immersion untuk segmen priority dan private banking Bank DBS Indonesia pada 2024 menyoroti dominasi segmen affluent di Indonesia yang meliputi 66 persen pemilik bisnis, diikuti dengan 16 persen karyawan swasta dan 15 persen kalangan profesional.

Temuan lainnya menunjukkan bahwa ketiga segmen ritel, priority, dan private banking ini memiliki kebutuhan bersama dalam mencari mitra yang dapat memberikan panduan dan berdiskusi mengenai peluang investasi dan bisnis, khususnya untuk priority dan private banking.

Baca juga: Diperlukan Sinergi Komprehensif Untuk Hasilkan Layanan Wealth Management Berkualitas 

Dalam upayanya mendukung seluruh segmen, Bank DBS Indonesia menghadirkan solusi yang dipersonalisasi sesuai profil masing-masing segmen.

Solusi ini mencakup insight lokal dan regional, jaringan internasional Bank DBS, layanan perbankan bisnis dan investasi (Consumer Banking Group dan Institutional Banking Group), serta insight yang dipertajam oleh Artificial Intelligence. (*)

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Jelang Idul Fitri, PGE Jaga Pasokan Listrik Nasional Tetap Stabil

Poin Penting PGE memastikan operasional pembangkit panas bumi tetap optimal selama periode mudik Idul Fitri… Read More

3 hours ago

Tugu Insurance Siaga 24 Jam, Dukung Perjalanan Mudik Aman dan Nyaman

Poin Penting Tugu Insurance menghadirkan layanan darurat t rex (derek/gendong) untuk membantu pemudik di berbagai… Read More

8 hours ago

Bank Sentral Global Menghadapi Ekspektasi yang Lebih Tinggi: Ke Mana Arah BI-Rate?

Oleh Ryan Kiryanto, Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia DALAM tayangan https://www.omfif.org/2026/03… Read More

9 hours ago

Jangan Asal Berangkat, Ini 6 Tip Mudik Lebaran agar Aman dan Nyaman

Poin Penting Sebanyak 143,9 juta orang diperkirakan mudik Lebaran, dengan mobil pribadi mendominasi hingga 76,24… Read More

10 hours ago

Transaksi ZISWAF BSI Tembus Rp30 Miliar di Ramadhan 2026, Naik 2 Kali Lipat

Poin Penting Transaksi ZISWAF BSI selama Ramadan 2026 mencapai Rp30 miliar, naik hampir dua kali… Read More

12 hours ago

Konflik Timur Tengah dan Risiko Harga Minyak Global, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia

Poin Penting Ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor, sehingga dampak… Read More

12 hours ago