Keuangan

DBS Indonesia Tambah Pendanaan Rp3 Triliun ke Kredivo, Ini Peruntukannya

Poin Penting

  • DBS Indonesia meningkatkan pendanaan channeling ke Kredivo menjadi Rp3 triliun, sejalan dengan pertumbuhan kredit ritel dan kolaborasi sejak 2020.
  • Pendanaan akan digunakan untuk ekspansi Kredivo ke kota tier 2 dan 3, memperluas akses kredit digital di wilayah dengan keterbatasan layanan perbankan.
  • Dana difokuskan untuk kebutuhan esensial masyarakat, seperti kebutuhan harian, kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan produktif, di tengah pesatnya pertumbuhan BNPL

Jakarta – PT Bank DBS Indonesia memperluas akses pembiayaan digital dengan meningkatkan pendanaan channeling untuk Kredivo menjadi Rp3 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari kolaborasi strategis jangka panjang sekaligus upaya memperkuat pertumbuhan kredit ritel di tengah meningkatnya permintaan pasar.

Sejak kerja sama dimulai pada 2020, limit pendanaan terus meningkat secara bertahap. Pendanaan yang awalnya sebesar Rp300 miliar naik menjadi Rp500 miliar, lalu Rp1 triliun pada 2021, Rp2 triliun pada 2022, hingga mencapai Rp3 triliun pada akhir 2025.

Baca juga: Bank DBS Indonesia Jalin Kerja Sama dengan Kredivo Indonesia

Peningkatan tersebut mencerminkan kinerja penyaluran kredit Kredivo yang konsisten sejalan dengan pertumbuhan permintaan pasar. Bagi Bank DBS Indonesia, tambahan pendanaan ini mendukung perluasan ekosistem kredit ritel melalui solusi finansial yang adaptif dan inklusif.

“Di tengah percepatan transformasi digital di sektor keuangan, kami ingin mendukung masyarakat untuk dapat ‘Live more, Bank less’ dengan memastikan kredit digital tak hanya mudah diakses, tapi juga membantu mereka mengelola kebutuhan sehari-hari dengan nyaman, fleksibel, dan praktis,” ujar Direktur Consumer Banking Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, dalam keterangan resmi, Senin, 2 Februari 2026.

Perluas Akses Kredit ke Kota Tier 2 dan 3

Di sisi lain, bagi Kredivo, penambahan pendanaan channeling ini akan mendorong ekspansi layanan ke lebih banyak kota tier 2 dan 3, wilayah dengan potensi pertumbuhan besar yang selama ini masih memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kredit formal perbankan.

Baca juga: Ekspansi di RI, DBS Fasilitasi Pembiayaan Sindikasi Zhongce Rubber USD100 Juta

Di saat yang sama, Laporan Perilaku Pengguna PayLater Indonesia 2024 menunjukkan bahwa 53,6 persen pengguna Kredivo berasal dari kota tier 2 dan 3, mencerminkan tingginya kebutuhan serta adopsi masyarakat terhadap layanan kredit digital sebagai alternatif akses pembiayaan.

Di sisi lain, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 68,61 persen secara tahunan (yoy) pada November 2025, dengan nilai mencapai Rp11,24 triliun.

Dukung Kredit Kebutuhan Esensial

Co-Founder dan President Director Kredivo Indonesia, Umang Rustagi mengatakan langkah ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menjangkau hingga 20 juta pengguna di seluruh Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

“Dengan dukungan pendanaan ini, kami dapat mempercepat ekspansi dan menyediakan akses kredit yang lebih inklusif bagi jutaan masyarakat Indonesia,” ucap Umang.

Baca juga: Friderica Widyasari Dewi Buka-bukaan Soal Seleksi Calon Pimpinan OJK

Umang lebih lanjut menjelaskan, pendanaan tersebut akan diprioritaskan untuk mendukung kebutuhan harian, kesehatan, pendidikan, hingga kebutuhan produktif masyarakat.

“Kolaborasi antara Bank DBS Indonesia dan Kredivo yang sudah berjalan hampir enam tahun ini membuktikan bahwa kerjasama antara bank konvensional dan platform kredit digital memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital,” tandas Umang. (*) Steven Widjaja

Yulian Saputra

Recent Posts

Simak! Ini Hasil Pertemuan OJK dan BEI dengan MSCI

Poin Penting OJK dan BEI paparkan 8 aksi reformasi pasar modal ke MSCI, dengan fokus… Read More

12 mins ago

Strategi Adira Finance-Danamon Menuju IIMS 2026

Poin Penting Adira Finance dan Danamon memulai Road to IIMS Jakarta 2026 lewat aktivasi CFD… Read More

2 hours ago

Pasar Lakukan Detox, Waktunya Serok Saham Fundamental

Poin Penting Tekanan pasar terkonsentrasi pada saham terdampak kebijakan MSCI dan percepatan reformasi OJK, sementara… Read More

2 hours ago

Danantara Ikut Pantau Pertemuan BEI dengan MSCI

Poin Penting Danantara aktif sebagai investor pasar saham Indonesia dan menilai valuasi saham domestik masih… Read More

2 hours ago

Risiko Banjir Meningkat, Allianz Catat Klaim Asuransi Bali Rp22 Miliar di 2025

Poin Penting Allianz mencatat klaim asuransi di Bali mencapai Rp22 miliar sepanjang 2025, didominasi kerusakan… Read More

2 hours ago

IHSG Masih Tertekan, Ditutup Ambles 4,88 Persen ke Level 7.922

Poin Penting HSG ambruk 4,88 persen ke level 7.922,73 pada perdagangan 2 Februari 2026, dengan… Read More

2 hours ago