Jakarta — KISI Asset Management (KISI AM) mengungkapkan pasar modal Indonesia masih menarik bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang. KISI AM pun membidik pertumbuhan asset under management (AUM) atau dana kelolaan bisa bertambah sekitar Rp1 triliun sampai Rp1,5 triliun di tahun depan.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama KISI Asset Management, Mustofa, dalam media gathering di Jakarta, Selasa, 17 Desember 2024. Ia mengungkapkan saat ini, dana kelolaan KISI AM sudah sekitar Rp3 triliun. Dengan proyeksi penambahan tersebut, di akhir 2025 KISI AM ditargetkan mengelola dana sekitar Rp4 triliun sampai dengan Rp4,5 triliun.
Ia mengungkapkan, kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian tinggi, yang antara lain disebabkan perlambatan ekonomi global, tensi geopolitik yang meningkat hingga perubahan iklim, Namun, ekonomi Indonesia terbukti menunjukkan daya tahan luar biasa.
“Tantangan global seperti kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, tekanan inflasi, dan ketegangan geopolitik menjadi perhatian utama. Namun, Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kokoh, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, dan dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten. Ini menjadi peluang besar bagi investor,” papar Mustofa.
Baca juga: DBS Indonesia Gandeng Moduit Perluas Akses Investasi Obligasi Pasar Sekunder, Targetkan AUM Rp500 Miliar
Baca juga: Mandiri Investasi Bidik AUM Rp58 Triliun di 2024, Begini Strateginya
Salah satu indikator penting yang dipaparkan KISI AM adalah terkait penyempitan spread antara US Treasury 10Y dengan Obligasi Pemerintah Indonesia 10Y. Ini sekaligus mencerminkan menurunnya persepsi risiko investasi di Indonesia, sekaligus meningkatkan daya tarik investasi di pasar domestik.
Sementara Arfan F Karniody, Direktur Investasi KISI AM menambahkan, pasar modal Indonesia mempunyai prospek positif di tengah ketidakpastian global. Ini tidak lepas dari fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, sehingga pasar modalnya menjadi tempat yang aman bagi investor, terlebih di tengah tingginya ketidakpastian global.
“Kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana, dipadukan dengan pertumbuhan yang tangguh, memastikan daya saing Indonesia dalam menarik aliran modal, menjadikannya tujuan investasi jangka panjang yang menarik,” terang Arfan.
Ia optimis, dengan fundamental ekonomi yang solid dan kebijakan yang proaktif, Indonesia diharapkan mampu menarik aliran modal jangka panjang dan memanfaatkan peluang yang ada di pasar domestik. (*) Ari Astriawan
Bank Muamalat Indonesia mencatat kinerja yang solid untuk layanan cash management system bernama Muamalat Digital… Read More
Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More
Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More
Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More
Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More