Moneter dan Fiskal

Daya Beli Lesu tetapi Ekonomi Tumbuh 5,12 Persen, Ekonom Mengaku Bingung

Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 tercatat sebesar 5,12 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2025 yang sebesar 4,87 persen.

Ekonom Senior Piter Abdullah menyatakan capaian tersebut cukup membingungkan, karena sebelumnya proyeksi atau konsesus pertumbuhan ekonomi untuk kuartal II 2025 berada di kisaran 4,7 hingga 4,8 persen.

“Saya kira kita semua lagi bingung. Konsensus kita itu di kisaran 4,7-4,8 persen. Kenapa? Karena kita itu punya yang namanya leading indicator. Leading indicator itu seperti PMI, penerimaan pajak, konsumsi, penjualan semen, penjualan mobil,” kata Piter kepada media di Jakarta, Selasa, 5 Agustus 2025.

Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,12 Persen di Kuartal II 2025, Lampaui Ekspektasi Pasar

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang berada di atas konsensus menimbulkan pertanyaan, terutama di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih lesu dan penurunan penjualan kendaraan bermotor.

“Penjualan mobil misalnya, Gaikindo saja nggak berani mengumumkan hasil GIIAS kemarin. Padahal selama ini Gaikindo itu dengan sangat bangganya mengatakan berapa transaksi yang terjadi, berapa mobil yang terjual. Tahun ini nggak berani. Semuanya itu menunjukkan bahwa ada perlambatan, ada penurunan,” imbuhnya.

Baca juga: Ekonomi RI Kuartal II 2025 Masih Ditopang Konsumsi Rumah Tangga

Namun, jika melihat pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi yang melonjak di kisaran 6 persen, Piter menilai hal tersebut mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Sebab, kontribusi PMTB terhadap PDB cukup besar, sekitar 20 persen.

“Jadi ketika pertumbuhan PMTB itu lompat ke 6 sekian persen, ya otomatis dia akan mengerek pertumbuhan ekonomi. Nah di sisi lain pertumbuhan konsumsi kita itu walaupun terjadi penurunan nggak mungkin turun. Perlambatan iya, nggak mungkin turun tapi. Karena jumlah penduduk kita naik, harga naik, pasti terjadi kenaikan,” ujar Piter.

Kombinasi Konsumsi dan Investasi

Menurut Piter, jika pertumbuhan konsumsi mencapai kisaran 4 persen dan PMTB sekitar 6 persen, keduanya bisa memberikan kontribusi hingga 80 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Jadi ketika pertumbuhan konsumsi kita ada di kisaran 4 persen ditambah pertumbuhan PMTB kita 6 persen ya otomatis pertumbuhan dengan kontribusi 80 persen terhadap pertumbuhan ekonomi udah bisa dibayangkan pertumbuhan ekonomi kita di atas 5 persen,” tambahnya.

Dengan demikian, Piter menyimpulkan bahwa penggerak utama pertumbuhan ekonomi saat ini berasal dari konsumsi masyarakat dan investasi. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Rebranding Produk Tabungan BTN Pos, BTN Bidik Dana Murah Rp5 Triliun

Poin Penting BTN rebranding e’Batarapos menjadi Tabungan BTN Pos sebagai langkah strategis memperluas inklusi keuangan… Read More

8 hours ago

Aliran Modal Asing Masuk RI Rp1,44 Triliun pada Awal 2026

Poin Penting Aliran modal asing masuk Rp1,44 triliun di awal Januari 2026, mayoritas mengalir ke… Read More

15 hours ago

KPK Tetapkan 5 Tersangka Terkait OTT Dugaan Suap Pajak di KPP Madya Jakut

Poin Penting KPK tetapkan 5 tersangka OTT dugaan suap pajak KPP Madya Jakarta Utara. 3… Read More

16 hours ago

Begini Gerak Saham Indeks INFOBANK15 di Tengah Penguatan IHSG

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,13 persen pada perdagangan Jumat (9/1/2026), meski mayoritas indeks domestik… Read More

16 hours ago

Sempat Sentuh Level 9.000, IHSG Sepekan Menguat 2,16 Persen

Poin Penting IHSG menguat 2,16 persen sepanjang pekan 5-9 Januari 2026 dan sempat menembus level… Read More

17 hours ago

Rosan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Poin Penting Munas VII MES menetapkan Rosan Roeslani sebagai Ketua Umum dan Ferry Juliantono sebagai… Read More

23 hours ago