Info Anda

Dari Marine Hull Sampai Aviasi, TUGU Pimpin Perolehan Premi pada 4 Segmen

Poin Penting

  • Tugu Insurance mempertahankan dominasi pasar dengan posisi teratas pada lini marine hull dan aviasi, serta posisi kedua pada properti dan energy offshore
  • Fundamental keuangan sangat kuat, ditunjukkan RBC 360,9 persen dan RKI 272 persen, jauh melampaui rata-rata industri, memberi ruang besar untuk ekspansi dan pemenuhan klaim
  • Kinerja keuangan solid, dengan laba Rp594,82 miliar, pendapatan jasa asuransi Rp5,98 triliun, hasil investasi tumbuh 21 persen menjadi Rp509,05 miliar, serta total aset naik 19,7 persen menjadi Rp32,12 triliun.

Jakarta — PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU/Tugu Insurance) kembali mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar industri asuransi umum. Perseroan mencatatkan posisi jajaran teratas (top tier) dalam perolehan premi bruto untuk empat lini bisnis strategis, yakni marine hull (rangka kapal), aviasi, energy offshore, dan properti.

Data industri menunjukkan bahwa TUGU konsisten menempati posisi nomor satu untuk segmen marine hull dan aviasi. Selain itu, TUGU berhasil naik ke posisi kedua dalam lini bisnis properti serta mempertahankan posisi kedua untuk segmen energy offshore. Pencapaian ini mencerminkan penguatan pangsa pasar TUGU, khususnya pada kategori risiko besar (specialty risks).

Analis Ajaib Sekuritas, Rizal Rafly, menilai kinerja tersebut menjadi penanda valid bahwa perusahaan memiliki kapabilitas mumpuni dalam mengelola portofolio dengan tingkat kompleksitas dan eksposur risiko yang tinggi.

Keempat lini bisnis tersebut—khususnya aviasi dan energi—membutuhkan kapasitas teknis yang kuat, dukungan reasuransi yang solid, serta disiplin underwriting yang ketat untuk menjaga stabilitas hasil (underwriting result).

Baca juga: Infobank Digital Bareng Tugu Insurance Gelar Literasi Keuangan di FEB Unpad

“Marine hull dan aviasi adalah lini bisnis yang membutuhkan kontrol risiko ketat dan struktur proteksi reasuransi yang sangat kuat. Dominasi TUGU di posisi teratas menunjukkan perusahaan mampu menjaga kualitas portofolionya dalam jangka panjang,” ujar Rafly.

Khusus pada lini properti, kenaikan peringkat TUGU sejalan dengan kontribusi premi yang semakin besar dari segmen ini dalam laporan keuangan konsolidasian. Bersama dengan marine hull dan energy offshore, segmen properti menjadi kontributor utama pertumbuhan premi bruto konsolidasian Perseroan hingga September 2025.

Rafly menambahkan bahwa posisi pasar di segmen risiko tinggi sering menjadi indikator utama bagi pelaku industri dalam menilai kapabilitas teknis (technical excellence) sebuah perusahaan asuransi.

“Jika sebuah perusahaan berada di papan atas untuk lini bisnis risiko tinggi, itu menunjukkan fundamental yang kokoh, mulai dari tata kelola risiko, kompetensi aktuaria, hingga kesiapan modal. Dalam kasus TUGU, posisi pasar tersebut sangat konsisten dengan indikator keuangannya yang kuat,” ungkapnya.

Ketahanan fundamental TUGU terlihat jelas dari rasio solvabilitas dan likuiditas. Per 30 September 2025, TUGU mencatatkan Risk-Based Capital (RBC) sebesar 360,9 persen, jauh di atas rata-rata industri asuransi umum yang berada di level 326 persen. Selain itu, Rasio Kecukupan Investasi (RKI) TUGU mencapai 272 persen, melampaui rata-rata industri yang sebesar 166 persen.

Indikator ini memberikan ruang yang luas bagi TUGU untuk mendukung kebutuhan likuiditas, ekspansi bisnis, dan pemenuhan kewajiban klaim kepada nasabah.

Baca juga: Kesehatan Keuangan TUGU Lampaui Industri, Ini Buktinya!

Secara kinerja keuangan, TUGU membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp594,82 miliar pada periode Januari-September 2025. Pendapatan Jasa Asuransi tercatat sebesar Rp5,98 triliun dengan Hasil Jasa Asuransi mencapai Rp682,63 miliar.

Di sisi lain, strategi investasi TUGU juga membuahkan hasil positif dengan kenaikan hasil investasi sebesar 21 persen secara tahunan (year on year) menjadi Rp509,05 miliar. Total aset Perseroan pun tumbuh 19,7 persen menjadi Rp32,12 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2024, didukung oleh peningkatan ekuitas yang mencapai Rp10,93 triliun. (*)

Galih Pratama

Recent Posts

Demutualisasi BEI Masih Tunggu PP, OJK Siapkan Aturan Turunan

Poin Penting OJK masih menunggu Peraturan Pemerintah (PP) sebagai dasar mekanisme pelaksanaan demutualisasi Bursa Efek… Read More

9 hours ago

Kadin Bidik Peningkatan Investasi Lewat Integrasi Asia Pasifik di ABAC Meeting I 2026

Poin Penting Kadin Indonesia mendorong integrasi Asia Pasifik melalui ABAC Meeting I 2026 untuk meningkatkan… Read More

10 hours ago

Perluas Akses Investasi Nasabah, Maybank AM Luncurkan Tiga Reksa Dana Anyar

Poin Penting Maybank AM meluncurkan tiga reksa dana baru—MYMONEY, MYGNETS, dan MYHIDIV—untuk memperluas pilihan investasi… Read More

11 hours ago

BTN Bukukan Laba Rp3,5 Triliun Sepanjang 2025, Tumbuh 16,4 Persen

Poin Penting BTN catat laba konsolidasian Rp3,5 triliun pada 2025, naik 16,4 persen yoy, didorong… Read More

11 hours ago

Deretan Emiten Big Caps dengan Free Float di Bawah 15 Persen, Ada Siapa Saja?

Poin Penting BEI menaikkan porsi saham free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen, dengan… Read More

14 hours ago

Thomas Resmi Jadi DG BI, Wamenkeu Suahasil dan Juda Harap Kolaborasi Makin Erat

Poin Penting Thomas Djiwandono resmi dilantik sebagai Deputi Gubernur BI periode 2026–2031 oleh MA, menggantikan… Read More

14 hours ago