Gedung perkantoran Wisma Danantara Indonesia. (Foto: Istimewa)
Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) terus ekspansif dalam menjalankan berbagai program investasi.
Teranyar, lembaga Sovereign Wealth Fund (SWF) yang sekarang menempati peringkat keenam sebagai SWF terkuat di dunia dengan asset under management (AUM) sebesar USD983 miliar itu, menargetkan investasi sebesar USD5 miliar, atau sekitar Rp81,54 triliun (asumsi kurs Rp16.309 per dolar AS) pada 2025.
Dana investasi tersebut akan diarahkan ke delapan sektor prioritas, yakni mineral (termasuk proses hilirisasi), energi terbarukan, infrastruktur digital, layanan kesehatan, jasa keuangan, utilitas infrastruktur, kawasan industri, serta sektor pangan sebagai bagian dari bidang pangan dan pertanian.
Baca juga: Soal BSI Masuk Danantara, OJK: Sedang dalam Proses
Di samping itu, Danantara juga berencana akan mengalokasikan pembiayaan senilai Rp130 triliun bagi program pengadaan 3 juta rumah di Indonesia sepanjang 2025.
Danantara sendiri memiliki dua unit utama, yakni holding operasional dan holding investasi. Saat ini, holding operasional membawahi sekitar 50 BUMN yang bergerak di 12 sektor berbeda.
Danantara juga diperkirakan akan menerima dividen sekitar Rp120 triliun dari perusahaan-perusahaan BUMN pada tahun ini. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk mendorong nilai tambah melalui penanaman modal di sektor-sektor strategis nasional.
Baca juga: Dividen Bank Masuk ke Danantara, Bos OJK Buka Suara
Merespons mulai gencarnya program investasi dari Danantara, Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah meyakini jika ke depannya, Danantara akan terus gencar melakukan investasi sesuai dengan tujuan dari didirikannya Danantara.
“Danantara ada dua fungsinya, mengelola BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan mengelola investasi. Berarti, KPI-nya adalah bagaimana mereka melakukan investasi,” ucap Piter saat ditemui di Jakarta, Senin, 30 Juni 2025.
Di luar aktifnya program-program maupun kerja sama investasi yang dilakukan Danantara, Piter menerangkan bahwa tantangannya terletak pada sejauh apa investasi-investasi yang dilakukan dan dikelolanya, memiliki hasil yang lebih baik lagi.
Piter menjelaskan, keuntungan dari BUMN yang sebelumnya langsung masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penerimaan negara, kini dikelola terlebih dahulu oleh Danantara dengan tujuan mendapatkan hasil investasi yang lebih besar.
“Seharusnya ini harus lebih baik (ketimbang sebelum ada Danantara),” tegas Piter.
Baca juga: Siap-siap! Danantara Bakal Rampingkan 16 BUMN Asuransi, Ini Tujuannya
Dengan mekanisme tersebut, ia menilai, penerimaan negara seharusnya meningkat, meski ada jeda waktu antara perolehan dividen dan realisasi penerimaan negara.
“Harusnya (penerimaan negara) bertambah, bukan berkurang. Tetapi ada lag (ketertundaan). Kalau dulu, saat BUMN untung, langsung disetor ke pendapatan negara. Kalau sekarang, dikelola dulu, supaya return-nya lebih tinggi. Return lebih tinggi ini yang lalu masuk ke negara,” terangnya.
Saat ditanya berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga investasi menghasilkan return tinggi, Piter mengaku tidak tahu pasti. Namun ia berharap kehadiran Danantara dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Tentunya Danantara akan mencari investasi-investasi yang menguntungkan,” pungkas Piter. (*) Steven Widjaja
Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More
Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More
Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More
Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More