Ilustrasi: Bank Himbara. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) bersiap melakukan reformasi besar-besaran terhadap perusahan BUMN pada 2026, termasuk bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
“Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia (BNI) sudah berada pada posisi yang tepat untuk pemulihan pendapatan karena biaya pendanaan menurun dan pertumbuhan pinjaman membaik,” tulis dokumen Danantara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026.
Baca juga: Catatan HUT ke-47 Infobank: Lazy Bank, Kriminalisasi Kredit Macet, dan Ujian Akhir Disiplin Fiskal
Dalam dokumen tersebut, Danantara menilai, reformasi Himbara berpotensi memperbaiki basis likuiditas, mendorong pertumbuhan kredit, dan meningkatkan pendapatan, dengan dukungan disiplin biaya terhadap pendapatan yang lebih kuat.
“Reformasi struktural akan menentukan apakah dorongan makro akan menghasilkan peningkatan peringkat yang berkelanjutan daripada sekadar peningkatan siklus,” ujarnya.
Menurut Danantara, perbankan BUMN yang lebih sehat akan mengurangi kebocoran anggaran negara, sementara peningkatan dividen berkontribusi memperkuat posisi fiskal.
Danantara sendiri telah menyiapkan sejumlah langkah reformasi dengan menajamkan fokus bisnis masing-masing bank, memperkuat tata kelola perusahaan, serta meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam pengambilan keputusan dan penyaluran pembiayaan.
“Untuk Himbara, dengan teknologi kita akan meningkatkan supaya lebih cepat, lebih baik, lebih transparan dalam pengambilan keputusannya, mereka dalam hal-hal memberikan pinjaman kepada para nasabahnya,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani, dikutip dari ANTARA.
Baca juga: Kasus “Sritex” Yuddy Renaldi dan Direksi BPD, Ketika Prosedur Dikriminalisasi, Bankir “Diberangus”
Ia mencontohkan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) akan diperkuat untuk fokus melayani segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta ritel, dengan dukungan teknologi sebagai faktor utama.
“Misalnya seperti BRI, kita harus fokus lebih ke UMKM, retail. Nah kita perkuat di situnya. Karena kalau seperti BRI, ya tentunya teknologi menjadi hal yang sangat utama, karena mereka men-serve begitu banyak, puluhan juta bahkan ratusan juta para nasabahnya,” ujar Rosan.
Seiring Himbara berada di bawah naungan Danantara, Rosan mengimbau seluruh bank pelat merah untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi, baik dengan sesama BUMN maupun dengan sektor swasta.
Berdasarkan catatan Infobanknews, laba bersih dari mayoritas bank Himbara mengalami kontraksi sejak awal 2025, kecuali Bank Tabungan Negara (BTN) yang masih mencatatkan kinerja positif.
Meski demikian, BRI tetap menempati peringkat pertama perolehan laba bersih konsolidsi sebesar Rp41,23 triliun hingga kuartal III 2025.
Baca juga: Purbaya Klaim Penempatan Dana Himbara Dorong Penurunan Suku Bunga, Ini Kata BI
Posisi berikutnya ditempati Bank Mandiri dengan laba bersih konsolidasi Rp37,7 triliun. Sementara itu, BNI mencatat laba bersih konsolidasi Rp15,12 triliun hingga kuartal III 2025, terkontraksi 7,24 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp16,3 triliun.
Kendati laba tertekan, penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) seluruh bank Himbara masih tumbuh sehat di kisaran 6-13 persen yoy. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Program bedah rumah target 400 ribu unit pada 2026. Dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota… Read More
Poin Penting Rokok ilegal merugikan negara hingga Rp25 triliun per tahun Peredaran meningkat, capai 10,8%… Read More
OCTOBIZ merupakan platform digital banking terintegrasi yang dirancang untuk membantu para pelaku usaha dalam mengelola… Read More
Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun meminta pemerintah transparan soal kesiapan fiskal… Read More
Poin Penting Pemerintah memastikan kebijakan WFH diterapkan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sektor layanan… Read More
Poin Penting OJK terapkan kebijakan HSC untuk mengidentifikasi konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi pada kelompok… Read More