Danantara Resmi Diluncurkan, Bagaimana Respons Investor Saham?

Jakarta – Peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Dana Anagata Nusantara (Danantara) yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 24 Februari 2024, ternyata belum menjadi katalis positif bagi investor pasar modal.

Seperti diungapkan Analys Stocknow, Abdul Haq Al Faruqy. Menurutnya, peluncuran Danantara masih belum dapat mendongkrak optimisme para investor.

“Hal ini karena, para investor masih khawatir terhadap struktur manajemen Danantara yang masih dianggap terdapat Conflict of Interest dari para pejabat negara,” ucap Abdul kepada Infobanknews di Jakarta, 24 Februari 2025.

Baca juga: Rosan Roeslani jadi CEO, Ini Susunan Lengkap Pengurus Danantara

Respons pasar itu, kata Abdul, terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I hari ini (24/2) yang ditutup melemah ke level 6.747,22 atau naik 0,82 persen dari dibuka pada level 6.803,00. 

Tidak hanya itu, pasar juga masih dibayangi oleh sentimen negatif global, seperti kebijakan tarif pajak layanan digital yang diambil oleh Trump sebagai bentuk perlawanan terhadap negara yang mengenakan tarif terhadap perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS).

“Hal ini tentu memicu kekhawatiran investor terhadap masifnya tarif yang dikenakan oleh Trump di banyak sector bisnis AS yang berpotensi mengakibatkan kenaikan angka inflasi AS dan nantinya akan berdampak terhadap kenaikan suku bunga AS,” imbuhnya.

Baca juga: Begini Gerak Saham BUMN yang Asetnya Bakal Dikelola Danantara

Di kala market yang tak menentu, investor diharapkan dapat memilih saham-saham defensif, yakni dari sektor consumer goods seperti saham ICBP dengan target 12.200 dan emiten komoditas emas seperti PSAB dengan target 310. Mengingat momen Ramadan diyakini aktivitas pembelian meningkat dari biasanya.

Sementara diketahui, Danantara dibentuk sebagai badan pengelola investasi strategis yang mengonsolidasikan aset negara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Danantara akan mengelola tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), di antaranya adalah saham-saham bank jumbo, seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), hingga Bank Negara Indonesia (BNI). (*)

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Bank Mandiri Catat Pembiayaan Berkelanjutan Rp316 Triliun Sepanjang 2025

Poin Penting Pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp316 triliun pada 2025, tumbuh 8% yoy, terdiri… Read More

16 mins ago

Pembiayaan Multifinance 2025 Lesu, OJK Ungkap Biang Keroknya

Poin Penting Aset industri pembiayaan 2025 terkontraksi 0,01 persen, dengan pertumbuhan piutang hanya 0,61 persen,… Read More

25 mins ago

Dilantik jadi Wamenkeu, Juda Agung Ungkap Arahan Prabowo

Poin Penting Juda Agung resmi dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan, menggantikan Thomas Djiwandono yang menjadi… Read More

44 mins ago

APPI Beberkan Dampak Kekerasan Debt Collector dan Jual Beli STNK Only

Poin Penting Maraknya penagihan intimidatif berdampak pada kebijakan perusahaan pembiayaan, yang kini memperketat prinsip kehati-hatian… Read More

48 mins ago

Bank Mandiri Targetkan Kredit 2026 Tetap di Atas Rata-Rata Industri

Poin Penting Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit 2026 di atas rata-rata industri, sejalan dengan proyeksi… Read More

1 hour ago

CEO Infobank: Jual Beli Kendaraan STNK Only Ilegal dan Berisiko Pidana

Info Penting Jual beli kendaraan STNK only dinyatakan ilegal, karena BPKB adalah satu-satunya bukti kepemilikan… Read More

1 hour ago