News Update

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting

  • Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian, bahkan Rp75 triliun telah ditarik kembali
  • Perbankan sebenarnya sudah memiliki dana menganggur Rp2.373 triliun yang belum tersalurkan karena minimnya permintaan kredit
  • Rendahnya pendapatan, tingginya pengangguran, dan mismatch keterampilan menekan permintaan, sehingga peningkatan investasi menjadi solusi utama pemulihan ekonomi.

Jakarta – Penempatan dana pemerintah sebesar Rp276 triliun ke himpunan bank milik negara (Himbara) dinilai hanya berdampak minim bagi perekonomian Indonesia.

“Kalau kita lihat pembicaraan dari berbagai pihak, dampaknya sangat kecil sekali. Bahkan, terakhir ditarik kembali Rp75 triliun,” kata Lili Yan Ing, Secretary General International Economic Association dalam acara Global & Domestic Economy Outlook 2026, di Menara Kadin, Kamis, 15 Januari 2026.

Ia menjelaskan, ada dua faktor utama minimnya efek berganda yang ditimbulkan oleh dana likuiditas tersebut. Pertama, ketersediaan dana yang ada di perbankan belum sepenuhnya dialirkan ke pasar.

Baca juga: Purbaya Tarik Dana Rp75 Triliun dari Himbara, OJK Pastikan Likuiditas Aman

Ketersediaan dana di seluruh perbankan Indonesia itu sebetulnya sudah tersedia dana 2.373 triliun dana yang tersedia dan belum dialirkan. Artinya belum ada permintaan,” ujar ekonom senior tersebut.

Artinya tambahan kucuran dana itu sebetulnya hanya memberikan dampak yang sangat kecil sekali, kalaupun itu bisa dialirkan,” tambahnya.

Faktor kedua yakni rendahnya permintaan masyarakat sehingga banyak perusahaan tidak berani mengambil pinjaman kredit. 

“Sehingga pinjaman dana yang ada tidak bisa dialirkan secara optimal Karena masalah yang kita hadapi bersama adalah weak demand, yakni pelemahan permintaan. Karena kalau kita lihat di pasar, kita rasakan sehari-hari, pelemahan permintaan itu terasa di seluruh aspek masyarakat,” bebernya.

Baca juga: Catatan HUT ke-47 Infobank: Lazy Bank, Kriminalisasi Kredit Macet, dan Ujian Akhir Disiplin Fiskal

Ia bilang, pelemahan permintaan tersebut bisa dilihat dari penurunan pendapatan masyarakat, tingkat pengangguran yang tinggi hingga ketidakcocokan keterampilan yang dibutuhkan oleh pekerjaan atau pemberi kerja.

“Dan itu terjadi hampir di semua sektor, hampir di semua lini ekonomi. Dan solusi yang utama adalah peningkatan capital atau peningkatan investasi karena hanya dengan meningkatkan investasi, perekonomian Indonesia itu bisa terangkat,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

10 mins ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

2 hours ago

Bangkrut Akibat Kredit Macet, Bank Ayandeh Iran Tinggalkan Utang Rp84,5 Triliun

Poin Penting Bank Ayandeh bangkrut pada akhir 2025, meninggalkan kerugian hampir USD5 miliar akibat kredit… Read More

3 hours ago

Penguatan Produktivitas Indospring Disambut Positif Investor, Ini Buktinya

Poin Penting INDS memperkuat produktivitas dan efisiensi melalui pembelian aset operasional dari entitas anak senilai… Read More

3 hours ago

KB Bank Kucurkan Kredit Sindikasi USD95,92 Juta ke Petro Oxo Nusantara

Poin Penting KB Bank salurkan kredit sindikasi USD95,92 juta untuk mendukung pengembangan PT Petro Oxo… Read More

3 hours ago

IHSG Ditutup Menguat 0,47 Persen ke Level 9.075

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,47 persen ke level 9.075,40 pada perdagangan 15 Januari 2026,… Read More

3 hours ago