Market Update

Dampak Sinyal Kenaikan Bunga AS, Rupiah Diproyeksi Lanjutkan Pelemahan

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari ini (29/9) terlihat mulai menguat bila dibandingkan dengan perdagangan kemarin (28/9) yang sempat jeblok hampir 1%. Meski demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih akan tertekan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pagi hari ini dibuka menguat 35 poin atau 0,23% ke posisi Rp15.232 per dolar AS dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan kemarin yang anjlok 0,94% ke level Rp15.267 per dolar AS.

“Semalam dolar AS terlihat melemah terhadap major currency karena data perumahannya (Pending Home Sales) bulan Agustus, mengalami penurunan -2% sehingga pasar berekspektasi ekonomi AS mulai melemah,” ujar Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjendra di Jakarta, 29 September 2022.

Dirinya mengatakan, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berpotensi mengalami kelemahan pada hari ini yang akan bergerak dibawah Rp15.300 per dolar AS. Hal ini sejalan dengan adanya ekspektasi kenaikan bunga acuan AS yang berpotensi menekan rupiah.

“Tadi pagi saya memperkirakan pelemahan berlanjut memanfaatkan momentum kemarin, tapi masih bergerak di bawah Rp15.300 dengan support di kisaran Rp15.200 per dolar AS,” ucapnya.

The Fed yang memimpin perjuangan global melawan lonjakan inflasi, berubah menjadi lebih agresif baru-baru ini dengan memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Pesan itu diperkuat semalam oleh Presiden Fed Chicago Charles Evans, Presiden Fed St. Louis James Bullard dan Presiden Bank Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari, dengan Evans mengatakan bahwa bank sentral perlu menaikkan suku bunga ke kisaran antara 4,5% dan 4,75%.

Sebelumnya, The Federal Reserve telah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) lagi pada pertemuan September ini dan merupakan ketiga kalinya secara berturut-turut.

Sementara itu Tim Riset Surya Fajar Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta menyebutkan bahwa penguatan dolar AS mulai berbalik melemah setelah Bank Sentral Inggris mengumumkan pembelian government bond sehingga pasar keuangan global lebih stabil.

Kondisi ini juga berpotensi membuat rypiah berbalik menguat setelah mengalami tekanan dalam 2 pekan terakhir. Di sisi lain, sektor komoditas diperkirakan bergerak atraktif setelah harga minyak global kembali mengalami penguatan lanjutan, kembali naik di posisi di atas USD80 per barrel. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

3 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

4 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

5 hours ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

9 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

17 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

18 hours ago