Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Poin Penting
Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bank sentral untuk sementara tidak lagi menyampaikan peluang penurunan suku bunga acuan (BI Rate) yang sebelumnya sempat diisyaratkan pada 2026.
Keputusan ini dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong BI lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Perry menjelaskan, BI telah menghitung intensitas dan potensi dampak konflik terhadap berbagai indikator ekonomi, mulai dari harga minyak dunia, inflasi, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Dampak konflik juga mulai terasa di pasar keuangan global. Arus modal asing keluar dan menekan nilai tukar di negara emerging market, termasuk Indonesia, seiring penguatan dolar AS.
Selain itu, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury turut mendorong naiknya suku bunga dan yield obligasi pemerintah di berbagai negara berkembang.
“Skenario-skenario ini yang kemudian kita dari sisi instrumen kami akan terus mengkalibrasi optimalitas antara kebijakan intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, kecukupan cadangan devisa, dan juga respons mengenai suku bunga. Tentu saja kalibrasi optimalitas antara ketiganya ini akan tergantung pada seberapa jauh eskalasi perang timur-tengah akan berlanjut,” ujar Perry dalam RDG, Selasa 17 Maret 2026.
Baca juga: Imbas Perang Timur Tengah, BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Maret 2026
Meski telah menyiapkan berbagai skenario, BI menilai masih terlalu dini untuk mengambil langkah lanjutan. Bank sentral akan terus memantau tiga instrumen tersebut, yakni intervensi pasar, kecukupan cadangan devisa, dan kebijakan suku bunga.
“Kami sudah punya skenario-skenario, skenario kalau harga minyaknya tentu saja tidak terlalu tinggi, skenario menengah kalau harga meningkatnya agak menengah, dan juga kalau terjadi eskalasi harga minyak tinggi,” imbuhnya.
Baca juga: Airlangga Beberkan Skenario Dampak Lonjakan Harga Minyak, Defisit APBN Bisa Tembus 4 Persen
Dengan kondisi ini, BI belum menentukan arah kebijakan ke depan, namun berpotensi mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.
“Dampak perang Timur Tengah ini memang, kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga. Sehingga itu kami hilangkan dari pernyataan ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI Rate selama ini,” bebernya.
BI juga menyiapkan langkah tambahan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui operasi moneter di berbagai instrumen, guna menahan arus keluar modal asing dan mendorong aliran dana kembali ke dalam negeri.
Mulai April 2026, BI memperkuat kebijakan transaksi pasar valas, antara lain:
Selain itu, BI memperketat pelaporan Lalu Lintas Devisa (LLD) dengan menurunkan batas kewajiban dokumen transfer keluar negeri dari USD100 ribu menjadi USD50 ribu.
“Itulah langkah yang terus kami lakukan, intinya Bank Indonesia berkomitmen penuh dan all out akan menjaga stabilitas nilai tukar dengan berbagai instrumen-instrumen yang kami punyai di kebijakan moneter,” imbuhnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting BI tetap siaga memantau rupiah selama libur Lebaran, termasuk melalui pasar offshore meski… Read More
Kerjasama ini juga membuka ruang bagi pengembangan bisnis terutama inisiatf mendukung program pemerintah dalam pengembangan… Read More
Poin Penting PT Bank Maybank Indonesia Tbk memperkuat pembiayaan SME syariah sebagai pilar utama pengembangan… Read More
Poin Penting PT Kereta Api Indonesia (Persero) menetapkan tarif maksimal LRT Jabodebek sebesar Rp10.000 selama… Read More
Poin Penting Anggota Komisi II DPR RI Ali Ahmad menilai wacana pemotongan gaji pejabat yang… Read More
Poin Penting PT Bank Maspion Indonesia Tbk memperoleh fasilitas pinjaman USD285 juta dari KASIKORNBANK Public… Read More