Ilustrasi Keuangan Indonesia. (Foto: Istimewa)
Jakarta — Pergerakan harga CPO berpeluang berbalik turun pada hari ini walaupun dibuka lebih tinggi di level 2.793 ringgit per ton karena investor yang mengkhawatirkan kenaikan produksi minyak sawit serta potensi menguatnya ringgit terhadap dolar AS.
Research Staff & Market Analyst Monex Investindo Futures, Faisyal mengatakan, data dari Southern Palm Oil Millers Associations (SPPOMA) pada hari Senin menunjukkan bahwa produksi untuk periode 1-20 Oktober naik 20,6 persen dari periode yang sama pada tahun lalu.
Sementara itu pergerakan ringgit pukul 10:50 WIB terpantau di level 4.2325 per dolar AS, menguat 0,08 persen. Ringgit yang lebih kuat dapat membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal untuk pemilik mata uang lainnya.
Kemarin, harga minyak sawit berakhir lebih tinggi 1,7 persen untuk ditutup di level 2.787 ringgit per ton, ditopang oleh kenaikan harga minyak nabati lainnya serta tingginya angka ekspor untuk periode 1-20 Oktober seperti yang dilaporkan oleh perusahaan surveyor kargo Intertek Testing Services pada hari Jumat.
“Untuk teknikalnya, area support terdekat berada di area 2.785, menembus ke bawah dari zona tersebut dapat memicu tekanan turun lebih lanjut untuk menguji level support selanjutnya di 2.760. Sementara itu untuk sisi atasnya, level resisten terdekat terlihat di area 2.825, menembus ke atas dari area tersebut dapat memicu kenaikan lebih lanjut untuk menguji ke level resisten selanjutnya di 2.855,” jelas Faisyal. (*)
Poin Penting Pemerintah memastikan kebijakan WFH diterapkan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sektor layanan… Read More
Poin Penting OJK terapkan kebijakan HSC untuk mengidentifikasi konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi pada kelompok… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan pengambilalihan PNM dari BPI Danantara untuk dijadikan… Read More
Poin Penting Keamanan OCTO Biz diperkuat dengan sistem berlapis termasuk enkripsi data, autentikasi pengguna, dan… Read More
Poin Penting KB Bank Syariah menghadirkan layanan deposito digital melalui aplikasi BISA Mobile untuk memperluas… Read More
Poin Penting Defisit APBN kuartal I 2026 mencapai Rp240,1 triliun (0,93 persen PDB), lebih tinggi… Read More