Nasional

CPI Beberkan PR Besar Genjot Pembiayaan EBT di Indonesia

Poin Penting

  • CPI menemukan investasi bahan bakar fosil masih dua kali lipat lebih besar dibanding energi baru terbarukan (EBT).
  • Peran Swasta Masih Berat ke Fosil: Sektor swasta menyumbang 73,72 persen pembiayaan ketenagalistrikan, namun 59,25 persen di antaranya masih mengalir ke proyek fosil.
  • Lebih dari 50 persen investasi PLTU batu bara periode 2019–2023 senilai USD10,63 miliar tidak tercatat.

Jakarta – Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia meluncurkan pembaruan Dasbor Pembiayaan Sektor Ketenagalistrikan Indonesia untuk periode 2019 sampai 2023. Dasbor ini mengungkap banyak fakta terkait sektor ketenagalistrikan Indonesia.

Dikembangkan melalui proses triangulasi data yang menggabungkan berbagai sumber data resmi, dasbor ini menyajikan informasi yang kredibel, komprehensif, dan terkini mengenai lanskap investasi sektor ketenagalistrikan di Indonesia.

Analisisnya memetakan sumber pembiayaan, alokasi, penggunaan, serta membandingkan aliran investasi energi baru terbarukan (EBT) dan bahan bakar fosil. Adapun tujuan dari dasbor ini, yakni membantu pemerintah, pelaku industri, dan sektor keuangan dalam mengambil kebijakan dan menangkap peluang investasi EBT yang tepat.

Baca juga: Dukung Literasi EBT, PHE ONWJ Ajak Pelajar Cirebon Kenali Energi Surya

Menurut Tiza Mafira, Director of CPI Indonesia, negara ini sudah bergerak ke arah yang tepat terkait soal EBT. Namun, ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Salah satu yang disorot adalah aliran investasi.

“Transisi energi Indonesia terus bergerak maju, namun keberhasilannya tidak hanya bergantung pada seberapa besar investasi yang dapat kita mobilisasi, tetapi juga pada ke mana dan bagaimana investasi tersebut mengalir,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip pada Jumat, 31 Oktober 2025.

Ia melihat adanya kemajuan dalam transisi energi. Namun, masih terdapat ketimpangan dalam prosesnya. Sebagai contoh, bahan bakar fosil masih mendapatkan porsi investasi terbesar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan energi terbarukan.

“Dengan data yang transparan dan terperinci seperti yang tersedia di dasbor kami, para pembuat kebijakan dan investor dapat menargetkan investasi dengan lebih tepat untuk mempercepat transisi Indonesia menuju masa depan rendah karbon,” tegasnya.

Temuan CPI lainnya juga meliputi rata-rata tahunan investasi EBT mencapai USD1,79 miliar. Angka ini masih jauh di bawah kebutuhan investasi tahunan sebesar USD9,1 miliar. Padahal, Indonesia baru saja meluncurkan Second Nationally Determined Contribution (NDC).

NDC merupakan komitmen setiap negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Diketahui, total kebutuhan investasi mencapai USD472,6 miliar hingga tahun 2035. Tapi, tidak ada alokasi sektoral yang secara khusus dilaporkan untuk EBT.

Investasi EBT juga lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan investasi bahan bakar fosil yang tercatat, yaitu sebesar USD2,55 miliar. Dan secara keseluruhan, swasta menjadi penggerak utama pembiayaan di sektor ketenagalistrikan.

Temuan CPI menunjukkan, kontribusi swasta di sektor ini sebesar 73,72 persen. Namun (59,25 persen dari pembiayaan tersebut masih dialokasikan untuk bahan bakar fosil, alih-alih untuk EBT..

Adapun sumber investasi swasta internasional yang menonjol dalam pembiayaan proyek bahan bakar fosil berasal dari Tiongkok , yakni sebesar USD2,48 miliar dan Korea Selatan USD1,52 miliar.

Baca juga: Akselerasi Transisi Energi, PLN Manfaatkan Green Ammonia untuk PLTU

Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah, sekitar USD10,63 miliar dolar AS atau lebih dari 50 persen dari investasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara pada periode 2019–2023 tidak tercatat.

Temuan ini menunjukkan kesenjangan data yang signifikan dan mengindikasikan bahwa nilai investasi batu bara yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar. Ini menjadi pertanyaan tersendiri akan komitmen menuju EBT. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Recent Posts

Purbaya Ancam Stop Anggaran Kementerian/Lembaga dan Pemda yang Lambat Belanja

Poin Penting Purbaya menilai lambatnya penyerapan anggaran K/L dan Pemda merupakan masalah klasik yang terjadi… Read More

31 mins ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak 33 Kali Lipat di 2025

Poin Penting Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat pada 2025, mencapai… Read More

2 hours ago

IHSG Ditutup Naik Hampir 1 Persen ke Posisi 9.032

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,94 persen ke level 9.032,58 dan sempat menyentuh All Time… Read More

2 hours ago

Purbaya Bakal Sikat 40 Perusahaan Baja China-Indonesia yang Diduga Mengemplang Pajak

Poin Penting Menkeu Purbaya temukan 40 perusahaan baja asal China dan Indonesia yang diduga mengemplang… Read More

3 hours ago

Permata Bank Bidik Pertumbuhan Kartu Kredit 20 Persen dari Travel Fair 2026

Poin Penting Permata Bank menargetkan pertumbuhan transaksi kartu kredit 20% lewat Travel Fair 2026 bersama… Read More

3 hours ago

Permata Bank Pede Kredit Konsumer Tumbuh 10 Persen di 2026

Poin Penting Permata Bank optimistis kredit konsumer tumbuh sekitar 10 persen pada 2026, dengan prospek… Read More

4 hours ago