Poin Penting
- Danantara memastikan operasional DSI tetap mengedepankan transparansi.
- DSI diharapkan memperkuat perdagangan dan daya tawar ekspor SDA Indonesia.
- Pasar diminta fokus pada eksekusi dan kepastian mekanisme operasional DSI.
Jakarta – Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir memastikan operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tetap mengedepankan transparansi.
Kepastian ini merespons adanya kekhawatiran pasar usai badan ekspor tersebut dibentuk beberapa waktu lalu.
“Saya tahu gambaran besarnya, ini akan sangat baik bagi negara. Ini bisa menjadi hal yang sangat positif. Sekarang semuanya bergantung pada eksekusi. Jadi kembali lagi, soal transparansi dan sebagainya memang harus kami lakukan sejak awal,” kata Pandu, dikutip ANTARA, Rabu, 27 Mei 2026.
Baca juga: INDEF Ingatkan Pembentukan DSI Jangan Sampai Matikan Eksportir Kecil
Menurutnya, pembentukan DSI diharapkan bisa menciptakan pasar yang lebih besar dan sehat bagi perdagangan komoditas SDA nasional, sekaligus memperkuat daya tawar Indonesia di hadapan pembeli global.
Ia menegaskan, mekanisme pasar tetap berjalan dan kontrak ekspor jangka panjang yang sudah dimiliki pelaku usaha sebelum pembentukan DSI akan tetap dihormati.
Adapun, konsep sentralisasi ekspor komoditas strategis bukan hal baru karena telah diterapkan sejumlah negara kaya minyak di Timur Tengah melalui perusahaan negara yang menjadi penyalur utama ekspor ke pasar global.
“Ide sentralisasi bukan sesuatu yang unik dan sudah berjalan sangat baik di beberapa negara. Jadi tantangannya bukan pada idenya, melainkan pada eksekusi,” kata Pandu.
Baca juga: Akademisi: Pengawasan Independen DSI Jadi Kunci Cegah Monopoli Ekspor SDA
Ia mengakui pengumuman pembentukan DSI sempat memunculkan ketidakpastian di pasar. Oleh sebab itu, menurutnya, keberadaan dan mekanisme kerja DSI perlu dijelaskan agar menjadi risiko yang lebih terukur bagi investor.
Menanggapi peringatan dari lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan S&P Global, Pandu menilai hal tersebut serupa dengan respons awal pasar saat BPI Danantara pertama kali dibentuk.
Menurutnya, kekhawatiran tersebut dapat dijawab melalui komunikasi yang baik dan eksekusi kebijakan yang konsisten seiring dengan berjalannya waktu. (*)
Editor: Yulian Saputra


