News Update

Ciamik! Laba Bank Banten Rp52,5 Miliar, Melonjak 31,54 Persen di 2025

Poin Penting

  • Laba bersih Bank Banten naik 31,54 persen menjadi Rp52,52 miliar pada 2025, ditopang pertumbuhan pendapatan bunga meski biaya dana meningkat dan NIM tertekan.
  • Intermediasi tumbuh jauh di atas industri. DPK naik 32,22 persen dan kredit melonjak 31,63 persen, jauh melampaui rata-rata industri perbankan
  • Fundamental makin kuat dan ekspansi terjaga. Aset tumbuh 32,45% menjadi Rp10 triliun, CAR solid di 36,73 persen, dan profitabilitas membaik (ROE naik).

Jakarta – Kinerja laba Bank Banten benar-benar ngegas di 2025. Laba bersih bank ini melonjak 31,54 persen menjadi Rp52,52 miliar dari Rp39,93 miliar pada 2024.

Mengutip laporan keuangan Bank Banten pada Selasa (3/3), lonjakan laba itu tak lepas dari pertumbuhan pendapatan bunga yang naik 16 persen menjadi Rp570,49 miliar. Meski beban bunga ikut terkerek 22,93 persen menjadi Rp371,80 miliar, Bank Banten tetap mampu menjaga ritme pertumbuhan. Hasilnya, pendapatan bunga bersih masih tumbuh 4,93 persen menjadi Rp198,69 miliar.

Di tengah kenaikan biaya dana, net interest margin (NIM) memang turun dari 3,51 persen menjadi 2,99 persen. Tapi, bank ini tetap bisa membukukan laba lebih tinggi. Beban operasional lainnya naik cukup signifikan 49,30 persen menjadi Rp139,16 miliar, sehingga rasio BOPO bergerak dari 90,46 persen ke 93,28 persen. Meski begitu, kinerja bottom line tetap positif. Ini menunjukkan manajemen Bank Banten tetap solid menjaga arah bisnis di tengah tekanan biaya.

Baca juga: Tren Positif Bank Banten, DPR Dukung Peran UMKM dan Optimalisasi RKUD

Dari sisi intermediasi, performa Bank Banten layak dapat tepuk tangan. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 32,22 persen menjadi Rp6,42 triliun. Angka ini jauh di atas rata-rata industri perbankan 2025 yang tumbuh 10,40 persen menurut Bank Indonesia (BI). Dana murah yang terdiri dari giro dan tabungan, naik 9,11 persen menjadi Rp1,50 triliun. Giro tumbuh 8,48 persen dan tabungan 9,71 persen. Meski deposito masih mendominasi dengan lonjakan 41,38 persen, pertumbuhan dana murah tetap penting karena menjadi sumber likuiditas berbiaya lebih rendah.

Penyaluran kredit juga melesat 31,63 persen menjadi Rp5,06 triliun, jauh di atas rata-rata industri yang 9,69 persen. Lebih keren lagi, kualitas kredit membaik. Rasion non performing loan (NPL) gross turun dari 7,53 persen di 2024 menjadi 4,67 persen, sudah di bawah batas aman regulator 5 persen.

NPL net juga membaik dari 1,98 persen ke 1,89 persen. Penurunan NPL ini mencerminkan kredit bermasalah Bank Banten makin terkendali, risiko kredit menurun, dan kualitas aset membaik. Ini sinyal positif bagi keberlanjutan bisnis Bank Banten.

Adapun total aset Bank Banten ikut terdongkrak 32,45 persen menjadi Rp10,00 triliun. Modal inti naik 11,05 persen menjadi Rp1,41 triliun, dengan CAR di level 36,73 persen, masih sangat kuat untuk menopang ekspansi. LDR berada di 76,24 persen, sedikit di bawah kisaran ideal 78 persen-92 persen, tapi tetap menunjukkan likuiditas yang terjaga.

Baca juga: RUPSLB Bank Banten Sahkan Perubahan Direksi dan Komisaris

Dari sisi rentabilitas, ROE naik dari 3,16 persen menjadi 3,97 persen, menandakan kemampuan Bank Banten mengelola modal makin baik. ROA memang turun ke 0,64 persen, tapi laba tetap tumbuh. Sementara itu, CIR membaik dari 112,20 persen menjadi 101,31 persen, walau masih jauh dari ideal di bawah 50 persen, tren penurunan ini menunjukkan efisiensi mulai diperbaiki.

Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Muhammad Busthami, Bank Banten menunjukkan progres nyata. Pertumbuhan intermediasi yang jauh melampaui rata-rata industri, disertai perbaikan kualitas kredit dan lonjakan laba, menjadi bukti bank ini sedang berada di jalur ekspansi yang serius. Kinerja 2025 pantas diapresiasi, Bank Banten bukan sekadar tumbuh, tapi tumbuh dengan arah yang makin sehat. (*) Ari Nugroho

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Tak Boleh Dicicil, THR Karyawan Swasta Paling Lambat Cair H-7 Lebaran

Poin Penting Airlangga Hartarto mewajibkan perusahaan swasta membayar THR penuh dan tidak boleh dicicil, paling… Read More

4 mins ago

UOB Sebut Sektor Manufaktur Menjadi Kunci Dongkrak Daya Beli Kelas Menengah

Poin Penting UOB menilai sektor manufaktur, terutama padat karya, menjadi kunci untuk meningkatkan daya beli… Read More

24 mins ago

Cek Rekening! Airlangga Sebut Pencairan THR ASN-TNI/Polri Sudah Dimulai per 26 Februari

Poin Penting Pemerintah siapkan Rp55 triliun untuk THR ASN 2026, naik 10% dari tahun lalu,… Read More

54 mins ago

Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus USD200 per Barel

Poin Penting Iran menutup Selat Hormuz dan mengancam serangan terhadap kapal serta pipa minyak, memicu… Read More

1 hour ago

Inovasi Berkelanjutan Bank Saqu Dampingi Perjalanan Solopreneur hingga Entrepreneur

Poin Penting Bank Saqu telah menjangkau 3,5 juta nasabah sejak 2023, dengan sekitar 40% merupakan… Read More

1 hour ago

Telkom Indonesia (TLKM) Siapkan Roadmap Pengembangan AI hingga 2028

Poin Penting Telkom susun roadmap Sovereign AI hingga 2028 untuk membangun model dan infrastruktur AI… Read More

3 hours ago