Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group.
Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group
SAAT ini keuangan negara berada dalam situasi yang saya sebut sebagai “fiskal di tepi jurang”. Defisit 2,92 persen – hanya kurang 0,08 persen dari batas maksimal yang diizinkan undang-undang – adalah lampu kuning yang tak boleh diabaikan. Penerimaan negara sedang paceklik. Dividen BUMN melalui Danantara tak lagi masuk APBN.
Sementara itu, belanja populis terus mengalir deras. Ditambah lagi, di panggung global, ketegangan Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran mengancam Selat Hormuz, jalur vital 20 persen perdagangan minyak dunia. Geopolitik menjadi risiko yang sulit diprediksi.
Satu, perbankan harus realistis membaca risiko likuiditas. Dana pihak ketiga (DPK) memang tebal, sebesar Rp9.217 triliun, tapi lihatlah undisbursed loan yang menggunung Rp2.509 triliun. Ini tanda bahwa sektor riil sedang dalam mode wait-and-see. Selektif dalam penyaluran kredit adalah keniscayaan.
Dua, antisipasi dampak moneter. Rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per satu dolar AS (USD1) adalah alarm. Bank Indonesia (BI) akan menjaga stabilitas dengan suku bunga ketat. Perbankan harus bersiap dengan potensi kenaikan biaya dana. Jangan tergoda perang suku bunga simpanan yang hanya akan menggerus margin.
Baca juga: Jika NPL Itu Tindak Pidana, Tutup Saja Banknya, Pak Presiden
Tiga, pahami tekanan fiskal yang akan membebani nasabah. Setiap kenaikan harga minyak USD1 per barel, Pertalite naik Rp111 per liter dan solar Rp115 per liter. Inflasi musiman sudah mencapai 2,92 persen, dan jika harga energi melonjak, daya beli masyarakat akan makin tertekan. Segmen konsumer – KPR, kredit kendaraan, multiguna – sudah menunjukkan perlambatan dengan NPL konsumer di angka 2,74 persen. Perbankan harus lebih ketat dalam menilai kemampuan bayar debitur, terutama di sektor yang sensitif terhadap harga energi.
Jangan tunggu sampai fiskal benar-benar jatuh ke jurang. Jangan tunggu sampai konflik global membakar habis optimisme. Dan, di saat fiskal seperti orang berjalan di tepi jurang dengan mata setengah terpejam, strategi lama yang sering diremehkan justru menjadi penyelamat. Selain tiga yang disebutkan di atas, masih ada jurus jitu dan paling ampuh, yakni cash is the king. Apakah masih relevan? Justru sekaranglah relevansinya mencapai puncak.
Satu, cash memberi daya tahan. Ketika krisis 1998 melanda, bank-bank yang bertahan bukan yang paling besar asetnya, melainkan yang paling likuid. Mereka yang kebanjiran kredit macet, tumbang. Mereka yang pegang kas kuat, selamat. Sekarang, dengan ancaman gagal bayar di sektor UMKM dan konsumer yang meningkat, perbankan harus menjaga rasio likuiditas seperti menjaga nyawa.
Dua, cash memberi fleksibilitas. Dalam situasi perang AS-Israel versus Iran yang bisa memicu harga minyak melonjak ke USD100 per barel – melebihi asumsi APBN USD70 – subsidi energi akan jebol. Inflasi meroket. Daya beli rontok. Debitur yang tadinya lancar bisa tersendat. Bank dengan kas kuat bisa mengatur ulang portofolio, merestrukturisasi kredit bermasalah, dan tetap membayar kewajiban tanpa panic selling aset. Sebaliknya, bank yang over-commit di kredit akan terjepit.
Tiga, cash adalah amunisi saat pintu krisis terbuka. Ketika likuiditas sistem mulai mengetat – dan ini bisa terjadi jika outflow asing berlanjut (saham Rp8,7 triliun, obligasi Rp14,4 triliun sudah kabur) – bank sentral mungkin akan memperketat kebijakan. Suku bunga naik. Dana mahal. Bank dengan kas melimpah tidak perlu berebut dana dengan bunga tinggi.
Baca juga: Imbas Perang Timur Tengah, BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Maret 2026
Tapi ingat, cash is the king bukan berarti berhenti bergerak. Ini strategi defensif, bukan pasif. Bank harus tetap menyalurkan kredit, tapi selektif. Hindari sektor yang sensitif terhadap gejolak harga energi dan pelemahan daya beli. Dan, yang paling penting, perkuat manajemen risiko. Pantau NPL harian, bukan bulanan.
Jadi, jawabannya tegas: cash is still the king. Di masa normal, raja boleh turun takhta. Tapi, di masa darurat, dialah yang memegang kendali. Jangan biarkan perbankan terjebak dalam euforia likuiditas semu. Sebab, ketika badai benar-benar datang, yang punya kas akan bertahan, yang kehabisan akan tenggelam.
Dan, untuk nasabah, Anda juga harus pegang prinsip yang sama. Di tengah tekanan fiskal dan gejolak global, jangan buru-buru investasi di aset berisiko. Pegang kas. Jaga likuiditas. Tunggu sampai situasi lebih jelas. Karena dalam perang, yang paling selamat bukan yang paling kuat, tapi yang paling siap.
Cash is the king. Jangan lupa!
Poin Peting Seluruh jenjang pendidikan dasar hingga menengah tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka lima hari… Read More
Poin Penting IHSG dibuka naik 1,43 persen ke 7.149,27 dari 7.048,22 pada awal perdagangan (1/4).… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan APBN tetap berkesinambungan dan defisit terkendali meski… Read More
Poin Penting Harga emas di Pegadaian kompak naik pada 1 April 2026, mencakup Antam, Galeri24,… Read More
Poin Penting Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG hari ini (1/4) bergerak rebound di rentang 7.100-7.200, terdorong… Read More
Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More