Ilustrasi: Aliran modal asing/istimewa
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan arus modal asing keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik sebesar Rp10,15 triliun pada pekan kedua Maret 2025.
Secara rinci, dari capital outflow tersebut, sebanyak Rp5,25 triliun terjadi di pasar saham dan senilai Rp2,97 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Data itu menunjukkan bahwa capital outflow terbesar terjadi di pasar SBN dengan neto Rp6,55 triliun, dengan peningkatan risiko investasi di Indonesia tercermin dari kenaikan credit default swap (CDS) sebesar 80,07 basis poin.
Tidak hanya itu, tekanan jual investor asing di pasar SBN mengalami peningkatan dengan total penjualan bruto mencapai Rp22,21 triliun.
Manajemen Panin Sekuritas menilai, tingginya arus modal asing yang keluar itu menandakan adanya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang tercermin dari lonjakan CDS.
Baca juga: Aliran Modal Asing Rp10,15 T Kabur dari RI Selama Sepekan, BI Cermati Pasar Keuangan
“Ketidakpastian global serta kebijakan domestik yang kurang mendukung pasar keuangan dapat menjadi pemicu utama teriadinya capital outflow ini. BI perlu memperkuat koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas pasar,” ucap Manajemen dalam risetnya di Jakarta, 17 Maret 2025.
Selain itu, ia menambahkan bahwa upaya untuk menurunkan risiko investasi serta memberikan kepastian kepada investor perlu diprioritaskan agar arus modal asing dapat kembali mengalir masuk.
Di sisi lain, aksi jual asing juga masih menjadi penghambat saham-saham bank, bahkan di saat menjelang pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) bank-bank pelat merah di akhir bulan ini.
Sebagai informasi, dalam sepekan aksi jual asing di saham bank mencapai Rp1,8 triliun. Walaupun, pada awal Maret 2025 aksi beli asing di saham perbankan mulai terlihat walaupun nilainya masih terbilang kecil dibandingkan aksi jualnya.
Hal tersebut terjadi karena faktor global dan makro yang kurang mendukung, hingga program pemerintah baru dalam negeri yang kurang positif untuk bank, mulai dari penghapusan kredit UMKM, Danantara, dan Koperasi Desa Merah Putih.
Baca juga: Berikut 5 Saham Penyebab IHSG Loyo dalam Sepekan
“Kami melihat, berlanjutnya aksi jual asing dalam beberapa waktu terakhir sejalan juga dengan adanya penguatan dolar AS akibat suku bunga The Fed yang tinggi, adanya revisi peringkat pasar Indonesia oleh lembaga keuangan global, seperti Goldman Sachs dan Morgan Stanley, serta likuiditas yang masih ketat,” imbuhnya.
Adapun Panin Sekuritas menilai, prospek bisnis perbankan masih menjanjikan tercermin dari masih tingginya dividen yang dibagikan yang kemudian berpotensi membuka ruang untuk saham perbankan rebound.
Kemudian, didorong pula oleh upaya perbankan dalam menjaring dana murah melalui penerbitan surat utang hingga super apps masing-masing perbankan. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,53 persen ke level 8.103,87, dengan mayoritas saham terkoreksi (349… Read More
Poin Penting Seorang siswa SD di NTT bunuh diri karena orang tuanya tak mampu membeli… Read More
Poin Penting Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp56,3 triliun pada 2025, ditopang pertumbuhan kredit 13,4… Read More
Poin Penting Keberadaan debt collector berperan sebagai credit collection support yang menjaga likuiditas, menekan risiko… Read More
Poin Penting Aset kelolaan DPLK Avrist tumbuh 9,24% menjadi Rp1,32 triliun hingga Desember 2025, dengan… Read More
Poin Penting Prabowo dinilai realistis menyikapi keikutsertaan Indonesia di Board of Peace, yang saat ini… Read More