Poin Penting
Jakarta – Solikin M. Juhro, salah satu kandidat Deputi Gubernur Bank Indonesia (calon DG BI) mengungkapkan bahwa perekonomian global tengah memasuki fase baru yang disebut TUNA, singkatan dari turbulency (turbulensi), uncertainty (ketidakpastian), novelty (kebaruan), and ambiguity (ambiguitas).
Fase tersebut menggantikan era sebelumnya, VUCA yang merupakan kependekan dari volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), and ambiguity (ambiguitas).
Solikin menjelaskan, fase TUNA merupakan kenormalan baru dalam dinamika ekonomi global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
“Volatilitas sudah menjadi turbulensi, dan bukan hanya kompleksitas, tetapi ada novelty-novelty kebaruan di era digital dengn kadar ketidakpastian dan kebaruan yang semakin tinggi,” kata Solikin saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon DG BI, di Komisi XI DPR RI, Jakarta, Jumat, 23 Januari 2026.
Baca juga: Jalani Fit and Proper Test Deputi Gubernur BI, Solikin Beberkan Strategi Kebijakan ‘SEMANGKA’
Memasuki 2026, lanjut Solikin, perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian tinggi. Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan turut menahan laju pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan tetap moderat, di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan.
Kondisi tersebut, menurut Solikin, menjadi tantangan besar bagi banyak negara, termasuk Indonesia, yang tengah berupaya mencapai status negara maju.
“Gelombang ini akan memengaruhi pencapaian cita-cita perekonomian nasional untuk menuju negara atau perekonomian Indonesia maju,” ujarnya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Solikin menegaskan pentingnya menavigasi arah kebijakan ekonomi melalui penguatan sinergi, mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, dan memastikan pembangunan yang inklusif.
Baca juga: Bos LPS Nilai Tiga Calon Deputi Gubernur BI Sosok yang Profesional
Ia menambahkan, visi tersebut tidak hanya bertujuan menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global, tetapi juga memastikan kualitas pertumbuhan sebagai prioritas utama.
“Kualitas pertumbuhan adalah kunci untuk mencapai visi ini, yang sejalan dengan mandat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai rupiah, sistem pembayaran, serta stabilitas sistem keuangan. Hal ini diwujudkan melalui tiga misi utama: menjaga stabilitas yang dinamis, mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan memastikan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan,” imbuhnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting OJK mencabut izin usaha PT Varia Intra Finance (VIF) melalui SK Anggota Dewan… Read More
Poin Penting Amartha buka peluang IPO di Bursa Efek Indonesia sebagai bagian dari strategi pengembangan… Read More
Poin Penting OJK menilai bank KBMI I (modal inti hingga Rp6 triliun) masih berpeluang memperkuat… Read More
Poin Penting Amartha menyalurkan pembiayaan Rp13,2 triliun pada 2025, tumbuh lebih dari 20% secara tahunan,… Read More
Poin Penting BNI–Siemens Indonesia menjalin kerja sama pembiayaan Rp300 miliar untuk proyek dan modal kerja… Read More
Poin Penting Tensi geopolitik mendorong aliran dana ke USD, membuat rupiah tetap rentan meski sempat… Read More