Buyback Saham Kembali Dibahas, Bos ADRO dan Bakrie Group Angkat Bicara

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji aturan pembelian kembali (buyback) saham yang memungkinkan emiten melakukannya tanpa harus melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Keputusan itu diambil bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai respons terhadap pelemahan signifikan pasar saham Indonesia dalam dua bulan terakhir. Selain itu, BEI juga akan menunda implementasi short selling.

Kebijakan tersebut diumumkan setelah dialog antara regulator dan para pelaku pasar yang berlangsung di Gedung BEI, Jakarta, Senin, 3 Maret 2025.

Baca juga: OJK dan BEI Sepakat Rem Short Selling, Buyback Tanpa RUPS Dikaji

Menanggapi rencana OJK, Presiden Direktur PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), Garibaldi Thohir menyatakan kesiapannya untuk melakukan aksi buyback saham jika aturan tersebut resmi diterapkan.

“Kalau OJK-nya menyatakan segera dibuka (buyback), kita siap. Kita tunggu banget,” ujar Boy Thohir, sapaan akrabnya, dikutip, Selasa, 4 Maret 2025.

Boy menambahkan bahwa valuasi saham perusahaan blue chip di Indonesia saat ini tergolong murah, meskipun kinerja keuangan para emiten masih cukup baik. Menurutnya, kondisi ini menjadi peluang bagi investor ritel untuk melakukan aksi beli.

“Makanya ini waktu yang bagus, terutama untuk investor dalam negeri, untuk retail menurut saya mungkin bagus. This is time to buy. Kita harus punya confidence bahwa memang ekonomi Indonesia itu bagus, dan menurut saya bisa kita lihat memang perusahaan-perusahaan di bursa tuh solid-solid,” imbuhnya.

Senada dengan Boy Thohir, Petinggi Grup Bakrie, Anindya Novyan Bakrie, menilai aksi buyback saham sebagai strategi menarik untuk memberikan return kepada investor, selain melalui pembagian dividen.

“Karena kita lihat memang buyback ini suatu hal yang menarik dan cara untuk memberikan return kepada investor juga kan, selain dividen. Apalagi pada saat seperti ini, banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia dan juga di grup kami yang memang bisa dibilang prospektif lah untuk dibeli,” ujar Anindya dalam kesempatan yang sama.

Baca juga: Regulasi Baru OJK Dinantikan, Klaim Asuransi Jiwa 2024 Tembus Rp160 Triliun

Meski demikian, ia menegaskan bahwa keputusan buyback bagi perusahaan-perusahaannya yang tercatat di BEI masih perlu dipertimbangkan dengan matang.

“Nah ini kita akan timbang-timbang karena kan keinginan pasti menarik nih, karena harganya benar-benar kita percaya di bawah daripada kewajaran menurut kami ya. Tapi kita juga mengerti bahwa kita harus selalu fokus untuk technical analysis maksudnya untuk harga saham tapi juga fundamental,” imbuhnya. 

“Jadi, kita akan duduk melihat hasil daripada diskusi hari ini lalu melihat bagaimana untuk asset allocation-nya,” pungkasnya.

Saat ini, beberapa perusahaan Grup Bakrie yang tercatat di BEI antara lain PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

ACA Bayar Klaim Kerusakan Turbin PLN Batam Senilai USD 11,04 Juta

Poin Penting PT Asuransi Central Asia (ACA) telah membayarkan klaim sebesar USD 11,04 juta atas… Read More

2 hours ago

ACA Bayar Klaim Kerusakan Turbin PLN Batam

PT Asuransi Central Asia (ACA) membayarkan klaim senilai USD 11,04 juta kepada PT PLN Batam,… Read More

3 hours ago

Bank Mandiri Catat Fundamental Solid di 2025, Perkuat Intermediasi dan Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah

Bank Mandiri secara konsolidasi berhasil mencatatkan kinerja solid di sepanjang 2025 tercermin dari penyaluran kredit… Read More

3 hours ago

CIMB Niaga Bidik Transaksi Rp45 Miliar di Cathay Travel Fair 2026

Jakarta – PT Bank CIMB Niaga Tbk membidik nilai transaksi hingga Rp45 miliar dalam penyelenggaraan Cathay… Read More

3 hours ago

Moody’s Turunkan Outlook RI, Purbaya: Hanya Jangka Pendek

Poin Penting Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s hanya bersifat… Read More

3 hours ago

Gaya Hidup Menggeser Risiko Penyakit ke Usia Muda? Simak Persiapan Menghadapi Risikonya

Poin Penting WHO mencatat 74 persen kematian global disebabkan penyakit tidak menular, dengan 17 juta… Read More

3 hours ago