Jakarta–Pemerintah terus mendorong perbankan nasional untuk dapat menekan suku bunga kreditnya dari level yang saat ini masih double digit menjadi single digit. Hal ini bertujuan agar daya beli masyarakat meningkat dan menopang perekonomian.
Jika perbankan nasional dapat menurunkan suku bunga kreditnya menjadi single digit, maka pertumbuhan kredit pun diperkirakan akan meningkat. Menurut Bank Indonesia (BI) apabila hal tersebut terealisasi maka pertumbuhan kredit akan berada pada batas atas dari target BI yang dikisaran 12%-14%.
“Perkiraan kami 12%-14% pertumbuhannya, kalau bunga kredit turun ya itu bisa ke 14% pertumbuhannya. Dia akan ke arah 14%,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung di Jakarta, Jumat, 26 Februari 2016.
Terlebih, kata dia, dengan kebijakan BI yang sudah menurunkan BI Rate menjadi 7% diharapkan dapat segera direspon oleh perbankan. “Kalau transmisi kebijakan BI efektif mempengaruhi suku bunga bank, suku bunga landing, ya semua kredit, maka dia akan ke arah 14%,” ujarnya.
Namun demikian, jika perbankan tidak merespon kebijakan BI tersebut, maka diperkirakan pertumbuhan kredit akan ada pada batas bawah. Kendati begitu, dia meyakini, bank-bank akan segera merespon kebijakan BI dengan ikut menurunkan suku bunga kreditnya.
“Kalau transmisinya masih berjalan belum baik maka kemungkinan hanya 12% pertumbuhannya, jadi range-nya itu,” tukas Juda. (*) Rezkiana Nisaputra
Poin Penting Bank Mandiri memastikan Livin’ by Mandiri tetap stabil dan beroperasi 24 jam untuk… Read More
Poin Penting Pemerintah menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret… Read More
Poin Penting Bank Mandiri memberangkatkan lebih dari 10.000 pemudik gratis menggunakan 215 bus ke berbagai… Read More
Poin Penting Laba bersih ASSA naik 81% menjadi Rp596,6 miliar pada 2025. Pendapatan konsolidasi mencapai… Read More
Poin Penting APLN mencatat penjualan dan pendapatan usaha Rp3,57 triliun pada 2025. Penjualan rumah tinggal… Read More
Poin Penting Kemacetan mudik di tol utamanya disebabkan bottleneck di gerbang transaksi, bukan semata lonjakan… Read More