Anggota VII Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Slamet Edy Purnomo dalam acara BUMN Business Forum 2024 yang diadakan The Asian Post dan Infobank Media Group di Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2024. (Foto: Erman Subekti)
Jakarta – Anggota VII Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Slamet Edy Purnomo mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mencapai target produktivitas dan daya saing pada periode 2025-2029. Menurutnya, ada beberapa isu krusial yang perlu diperhatikan seiring dengan strategi transformasi ekonomi yang sedang diupayakan oleh BUMN.
“BUMN dinilai masih memiliki produktivitas yang rendah, diukur dari return on asset yang hanya mencapai 3,05 persen. Target perbaikan yang ingin dicapai adalah 3,9 persen pada tahun 2029,” ungkap Slamet dalam acara BUMN Business Forum 2024 yang diadakan The Asian Post dan Infobank Media Group di Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2024.
Ia menambahkan bahwa tantangan ini harus menjadi perhatian serius, terutama dalam upaya meningkatkan kontribusi BUMN terhadap pendapatan negara yang ditargetkan untuk tahun 2030. Slamet juga menyoroti rendahnya daya saing BUMN, di mana desain untuk peningkatan daya saing belum menjadi prioritas.
“Rasio total turnover BUMN hanya 0,3 persen. Ini adalah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan,” jelasnya.
Baca juga: Rektor IPB: BUMN Berperan sebagai Inkubator Bisnis UMKM
Lebih jauh, ia menggarisbawahi pentingnya hubungan ekosistem industri kesehatan sebagai prioritas untuk masa depan generasi muda. Kualitas dan keberlanjutan dalam pengembangan sektor ini akan menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Digitalisasi juga perlu diperhatikan. Kita perlu meningkatkan jumlah BUMN yang telah beradaptasi dengan teknologi 4.0, dan memperbaiki program yang sudah ada,” lanjut Slamet.
Ia menekankan bahwa pemerintah memiliki peran vital dalam menstandarkan kualitas dan kinerja BUMN agar mampu bersaing di tingkat global. Di tengah tantangan ini, Slamet mengajak semua pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam menciptakan inovasi dan memperkuat posisi BUMN, termasuk dalam sektor kimia dan industri kreatif.
“Kita perlu juga melakukan ekspor untuk memanfaatkan potensi BUMN demi profitabilitas nasional. Ini adalah kunci untuk mencapai kemajuan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri
Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu dan menangkap Rizal, mantan Direktur… Read More
Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More
Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More
Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More
Poin Penting NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan… Read More
Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More