Chairman MRI, Harry Puspito dalam seminar daring MRI bertajuk “Beyond The Customer Experience: What Truly Builds a Healthy Brand?”, Rabu (8/10). (Tangkapan layar Zoom: M. Adrianto Sukarso)
Jakarta – Kesehatan merek (brand health) kini menjadi aspek penting yang harus diperhatikan oleh pelaku industri perbankan. Hal ini disampaikan oleh Marketing Research Indonesia (MRI).
Chairman MRI, Harry Puspito menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan brand. Yang pertama adalah brand presence, yaitu sejauh mana, seberapa banyak, seberapa kuat merek itu ada di dalam pikiran target pasar.
“Selanjutnya ada brand perception, yaitu bagaimana persepsi kualitas merek bank di mata konsumen. Jadi apakah merek yang kita kelola ini dipercaya, memiliki nilai, dan layak dipilih oleh pelanggan,” terang Harry di seminar daring MRI bertajuk “Beyond The Customer Experience: What Truly Builds a Healthy Brand?”, Rabu, 8 Oktober 2025.
Dan terakhir, ada brand performance, di mana pelanggan memberi penilaian terhadap performa dari sebuah perusahaan. Ketiga pilar tersebut menjadi penopang dari keberlanjutan brand di sebuah industri.
Baca juga: Simak! Inilah Keterkaitan Kesehatan Brand dengan DPK Bank
Sementara itu, Strategic Insights & Tech Director Marketing MRI, Farid Nuranshory menambahkan bahwa reputasi dan stabilitas finansial menjadi dua aspek terpenting dalam menilai kesehatan merek bank.
“Reputasi yang paling penting (bagi bank) itu adalah dari sisi stabilitas finansial dan tata kelola yang kredibel. Nah ini yang menjadi hal utama yang dilihat oleh nasabah,” jelas Farid.
Di samping itu, MRI juga melakukan riset mengenai ekspektasi nasabah terhadap perbankan di lintas generasi. Salah satu hasil yang dibahas adalah penduduk Indonesia dari berbagai kalangan akan mengutamakan reputasi perbankan di atas yang lain-lain.
“Nasabah pada umumnya ketika memilih bank, (yang diutamakan) nomor satu adalah reputasinya. Jadi reputasi merupakan faktor penting yang dipertimbangkan ketika dia memilih produk atau layanan keuangan,” kata Farid.
Hal ini juga selaras dengan hasil survei Brand Health MRI yang dilangsungkan pada November 2024 hingga Januari 2025, terhadap 1.382 responden. Terlihat, bank-bank dengan reputasi ternama mendapatkan rating lebih tinggi.
Bank-bank di kelompok KBMI IV menempati posisi teratas, yakni Bank Central Asia (BCA) dengan rating 77,45 persen, disusul Bank Negara Indonesia (BNI) 76,38 persen, Bank Rakyat Indonesia (BRI) 74,95 persen, dan Bank Mandiri 74,84 persen.
Baca juga: Bukan Sekadar Branding, Ini Cara Membangun Brand yang Punya Jiwa
Perolehan rating tersebut bahkan lebih tinggi dari kategori lain. Di kelompok KBMI III, CIMB Niaga mencatat rating 73,21 persen.
Ada juga kategori bank syariah, yang dipimpin Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan rating 72,44 persen. Disusul dengan bank daerah, yakni Bank Sulselbar meraih 74,49 persen.
Sementara, di kategori bank digital, Bank Neo Commerce (BNC) memperoleh rating tertinggi sebesar 70,72 persen. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting 15,2 juta NIB diterbitkan, 14,9 juta untuk usaha mikro; masih ada 40 juta… Read More
Poin Penting Pemerintah memperpanjang penempatan Rp200 triliun di bank-bank milik negara hingga September 2026 untuk… Read More
Poin Penting Studi CELIOS menunjukkan Program MBG bisa membuang 62–125 juta porsi/minggu, merugikan negara Rp622… Read More
Poin Penting OJK menegaskan tidak ada perpanjangan waktu, semua UUS asuransi wajib spin off paling… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ungkap sudah ada sejumlah pendaftar calon ADK OJK, terutama… Read More
Poin Penting Pemerintah memastikan dana THR 2026 sebesar Rp55 triliun telah siap dan tinggal menunggu… Read More