Tips & Trick

Bukan Sekadar Branding, Ini Cara Membangun Brand yang Punya Jiwa

Poin Penting

  • Brand harus punya “jiwa”, bukan sekadar dikenal secara visual, melainkan mampu membangun koneksi emosional dengan konsumen.
  • Konsistensi tone of voice dan transparansi visi-misi menjadi kunci agar identitas brand tetap kuat dan relevan di semua kanal komunikasi.
  • Seluruh karyawan berperan sebagai wajah brand, karena brand yang hidup dibangun oleh seluruh elemen perusahaan, bukan hanya tim marketing.

Jakarta – Di tengah ketatnya persaingan bisnis, membangun merek (brand) saja tidak cukup. Sebuah brand harus punya identitas yang kuat dan berdampak—tidak hanya dikenal, tapi juga dirasakan.

Hal tersebut disampaikan oleh Marketing Director Arah Visual & Concepts, Whitney Cyntia W dalam forum bertema “Beyond The Customer Experience: What Truly Builds a Healthy Brand?” yang diselenggarakan Infobank dan Marketing Research Indonesia (MRI), secara virtual, Rabu, 8 Oktober 2025.

Menurut Whitney, membangun identitas yang berdampak adalah tahap paling penting dalam perjalanan sebuah brand. “Kalau membangun brand itu ibarat membuat bentuknya. Tapi membangun identitas yang berdampak itu seperti memberi jiwa,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa setiap brand seharusnya diperlakukan seperti manusia.

“Kalau brand itu orang, dia siapa? Kalau dia bicara, nadanya seperti apa? Formal, santai, atau lucu? Dari situ kita bisa tahu bagaimana cara brand itu berkomunikasi,” jelasnya.

Baca juga: Simak! Inilah Keterkaitan Kesehatan Brand dengan DPK Bank

Dengan memosisikan brand sebagai sosok yang hidup, tim komunikasi dapat lebih mudah menentukan arah pesan, gaya visual, dan karakter yang konsisten di semua kanal.

Lebih lanjut, Whitney menyebutkan tiga komponen dasar visual yang harus dimiliki setiap brand, di antaranya logo, palet warna, dan gaya visual. Namun, di atas semua itu, ada dua elemen lain yang tak kalah penting, yakni tone of voice serta transparansi visi dan misi.

“Sekarang banyak brand yang tampil menarik secara visual, tapi belum tentu punya gaya komunikasi yang konsisten. Tone of voice itu penting, karena dari situ kita tahu karakter brand-nya seperti apa. Lalu visi dan misi harus jelas dan transparan, disampaikan dari hulu ke hilir lewat berbagai platform,” ungkapnya.

Baca juga: Branding Modern dan Spiritual, BSI Catat Kenaikan Brand Awareness 5 Persen di 2025

Transparansi ini, lanjutnya, dapat diwujudkan melalui situs web, blog, media sosial, hingga kegiatan interaktif seperti webinar. Dengan begitu, publik dapat melihat bukan hanya produk, tapi juga nilai dan komitmen di balik brand tersebut.

Brand yang Kuat Harus Dirasakan

Menurut Whitney, keberhasilan sebuah brand tidak diukur hanya dari angka penjualan, tapi dari sejauh mana brand tersebut bisa “dirasakan” oleh konsumennya.

“Setiap produk atau jasa yang dibeli pelanggan harus punya rasa. Walaupun tidak selalu terlihat, pelanggan harus bisa merasakan nilai dari brand itu. Entah secara sosial, emosional, moral, atau tujuan (purpose),” paparnya.

Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai inisiatif, mulai dari kegiatan sosial, edukasi publik, hingga pesan positif yang melampaui transaksi komersial.

“Intinya, positive impact beyond transaction,” tegas Whitney.

Baca juga: 5 Tantangan Bank Digital dalam Membangun Brand dan Menjaring DPK

Whitney juga menekankan pentingnya peran internal perusahaan dalam membangun identitas yang kuat.
Brand yang hidup tidak hanya dibangun oleh tim marketing, tapi juga oleh semua orang di perusahaan,” katanya.

Mulai dari tim customer experience, product development, hingga HR, semuanya berperan membentuk budaya dan karakter yang mencerminkan nilai brand. Ia pun mengutip satu ungkapan dari Manta Liberta: “Every person in our team is a customer service representative”.

“Kalimat itu sederhana tapi kuat. Artinya, setiap orang di tim adalah wajah dari brand. Dan kalau itu bisa diterapkan, maka brand akan terasa hidup. Bukan sekadar nama atau logo,” pungkas Whitney. (*) Ayu Utami

Yulian Saputra

Recent Posts

Purbaya Disebut Temukan Data Uang Jokowi Ribuan Triliun di Bank China, Kemenkeu: Hoaks!

Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa informasi yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa… Read More

2 hours ago

Lewat AKSes KSEI, OJK Dorong Transparansi dan Pengawasan Pasar Modal

Poin Penting OJK mendorong keterbukaan informasi pasar modal melalui sistem pelaporan elektronik AKSes KSEI dan… Read More

4 hours ago

Penjualan Emas BSI Tembus 2,18 Ton, Mayoritas Pembelinya Gen Z dan Milenial

Poin Penting Penjualan emas BSI tembus 2,18 ton hingga Desember 2025, dengan jumlah nasabah bullion… Read More

4 hours ago

Transaksi Syariah Card Melonjak 48 Persen, Ini Penopangnya

Poin Penting Transaksi Syariah Card Bank Mega Syariah melonjak 48% pada Desember 2025 dibandingkan rata-rata… Read More

4 hours ago

Purbaya Siapkan Jurus Baru Berantas Rokok Ilegal, Apa Itu?

Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tengah membahas penambahan satu lapisan cukai rokok untuk memberi… Read More

4 hours ago

Permata Bank Mulai Kembangkan Produk Paylater

Poin Penting Permata Bank mulai mengkaji pengembangan produk BNPL/paylater, seiring kebijakan terbaru regulator, namun belum… Read More

5 hours ago