News Update

BTN Ungkap Penyebab NPL Konstruksi Tinggi, Fokus Bereskan Kredit Legacy

Poin Penting

  • NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan waktu.
  • BTN menyiapkan strategi penyelesaian, termasuk NPL sales dan skema recycle pada 2026.
  • NPL konstruksi BTN menurun menjadi 15,6% per September 2025 dari 18,2% tahun sebelumnya.

Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membeberkan penyebab masih tingginya rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada segmen konstruksi per September 2025.

Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo menjelaskan, kenaikan NPL segmen kontruksi pada periode tersebut berasal dari kredit bermasalah lama atau legacy yang dibukukan sebelum 2020 sehingga proses pemulihannya membutuhkan waktu.

“Segmen kontruksi itu sebenarnya segmen dari kredit macet peninggalan lama alias legacy. Jadi yang di-booking sebelum tahun 2020. Jadi ya memang kalau asetnya sudah bermasalah, setelah di-recovery memang perlu waktu,” ujarnya, di Jakarta Rabu, 4 Februari 2026.

Baca juga: IHSG Ditutup di Zona Hijau, Saham BBTN, AMMN, dan BRIS Jadi Top Gainers

Menurutnya, BTN pun berupaya keras agar kredit tersebut tak jatuh ke kondisi bermasalah. Sebab, ketika kredit sudah masuk kategori NPL, proses penyelesaiannya menjadi lebih panjang, termasuk dalam hal penghapusan dari pembukuan bank.

“Kalau sudah jadi masalah, mengeluarkannya dari buku bank itu perlu waktu. Proses penjualannya lama dan lain-lain,” jelasnya.

Strategi Penyelesaian Kredit Konstruksi

Atas kondisi tersebut, BTN menyiapkan sejumlah strategi, terutama melalui proses recycle. Ia menyebut, pada 2026 akan ada penjualan NPL (NPL sales) dengan berbagai skema semisal konvensional. 

Selain itu, BTN juga menyiapkan langkah strategis lain, khususnya untuk aset properti yang masih memiliki potensi menghasilkan pendapatan berulang (recurring income).

“Beberapa properti yang masih bisa menghasilkan atau recurring income akan kita bungkus menjadi direct. Jadi auto rates,” ungkap Setiyo.

Baca juga: Saham BBTN Menguat 3,27 Persen, Catat Kenaikan YTD Tertinggi Bank BUMN

Ia menambahkan, aset properti tersebut akan diperbaiki terlebih dahulu sebelum ditawarkan ke pasar, seperti hotel, kondotel, maupun pusat perbelanjaan

“Itu yang akan kita bungkus menjadi direct. Nah, itu yang nanti menjadi salah satu opsi penyelesaian kredit konstruksi yang sekarang ini,” pungkasnya.

Sebagai catatan, per September 2025 NPL kredit konstruksi BTN tercatat sebesar 15,6 persen, turun dari 18,2 persen pada September 2024. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Marak Joki Coretax di Medsos, Begini Tanggapan Menkeu Purbaya

Poin Penting Marak jasa joki Coretax di media sosial dengan tarif Rp50–100 ribu, memanfaatkan kesulitan… Read More

29 mins ago

Universal Banking di Depan Mata, OJK Soroti Tantangan Kesiapan IT Industri Perbankan

Poin Penting OJK kaji universal banking, yakni integrasi layanan keuangan (perbankan, asuransi, investasi, fintech) dalam… Read More

1 hour ago

IHSG Dibuka Rebound, Balik Lagi ke Level 7.000

Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,19 persen ke level 7.002,69 pada awal perdagangan, berbalik dari… Read More

2 hours ago

Update Harga Emas Hari Ini (7/4): Antam, Galeri24, dan UBS Turun Berjamaah

Poin Penting Harga emas di Pegadaian kompak turun pada 7 April 2026 setelah sebelumnya stabil… Read More

2 hours ago

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Tembus Level Rp17.076

Poin Penting Rupiah hari ini dibuka melemah ke Rp17.076 per dolar AS (turun 0,24 persen… Read More

2 hours ago

IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan 4 Saham Ini

Poin Penting IHSG diproyeksikan masih rawan koreksi ke rentang 6.745–6.849, meski skenario terbaik berpeluang menguat… Read More

3 hours ago