Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo. (Foto: M. Ibrahim)
Poin Penting
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) membeberkan penyebab masih tingginya rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada segmen konstruksi per September 2025.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo menjelaskan, kenaikan NPL segmen kontruksi pada periode tersebut berasal dari kredit bermasalah lama atau legacy yang dibukukan sebelum 2020 sehingga proses pemulihannya membutuhkan waktu.
“Segmen kontruksi itu sebenarnya segmen dari kredit macet peninggalan lama alias legacy. Jadi yang di-booking sebelum tahun 2020. Jadi ya memang kalau asetnya sudah bermasalah, setelah di-recovery memang perlu waktu,” ujarnya, di Jakarta Rabu, 4 Februari 2026.
Baca juga: IHSG Ditutup di Zona Hijau, Saham BBTN, AMMN, dan BRIS Jadi Top Gainers
Menurutnya, BTN pun berupaya keras agar kredit tersebut tak jatuh ke kondisi bermasalah. Sebab, ketika kredit sudah masuk kategori NPL, proses penyelesaiannya menjadi lebih panjang, termasuk dalam hal penghapusan dari pembukuan bank.
“Kalau sudah jadi masalah, mengeluarkannya dari buku bank itu perlu waktu. Proses penjualannya lama dan lain-lain,” jelasnya.
Atas kondisi tersebut, BTN menyiapkan sejumlah strategi, terutama melalui proses recycle. Ia menyebut, pada 2026 akan ada penjualan NPL (NPL sales) dengan berbagai skema semisal konvensional.
Selain itu, BTN juga menyiapkan langkah strategis lain, khususnya untuk aset properti yang masih memiliki potensi menghasilkan pendapatan berulang (recurring income).
“Beberapa properti yang masih bisa menghasilkan atau recurring income akan kita bungkus menjadi direct. Jadi auto rates,” ungkap Setiyo.
Baca juga: Saham BBTN Menguat 3,27 Persen, Catat Kenaikan YTD Tertinggi Bank BUMN
Ia menambahkan, aset properti tersebut akan diperbaiki terlebih dahulu sebelum ditawarkan ke pasar, seperti hotel, kondotel, maupun pusat perbelanjaan
“Itu yang akan kita bungkus menjadi direct. Nah, itu yang nanti menjadi salah satu opsi penyelesaian kredit konstruksi yang sekarang ini,” pungkasnya.
Sebagai catatan, per September 2025 NPL kredit konstruksi BTN tercatat sebesar 15,6 persen, turun dari 18,2 persen pada September 2024. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu dan menangkap Rizal, mantan Direktur… Read More
Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More
Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More
Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More
Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya berencana membeli anak usaha BRI untuk dijadikan penyalur langsung KUR UMKM,… Read More