News Update

BTN Dukung Program Gentengisasi Prabowo, Fokus Pembiayaan Renovasi dan Sanitasi

Poin Penting

  • BTN dukung penuh program gentengisasi Prabowo melalui penyaluran subsidi renovasi rumah untuk meningkatkan kualitas hunian, terutama perbaikan atap dan sanitasi.
  • Fokus pembiayaan pada proses renovasi, bukan pengadaan material genteng, dengan tetap membuka peluang penggunaan genteng ramah lingkungan yang telah lolos uji ketahanan.
  • Anggaran gentengisasi diproyeksikan sekitar Rp1 triliun dari APBN 2026, bersumber dari dana cadangan dan potensi realokasi anggaran pemerintah.

Jakarta — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mendukung penuh program ‘gentengisasi’ dalam merenovasi rumah layak huni, khususnya dalam perbaikan atap seng menjadi genteng.

Menurut Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, program yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto sejalan dengan upaya BTN dalam meningkatkan kualitas hunian warga melalui skema subsidi renovasi rumah. 

“Jadi rumah itu yang paling penting adalah atap, karena melindungi orang yang tinggal di bawahnya. Jadi atapnya harus layak,” ujar Setiyo di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026. 

Selain atap, lanjut Setiyo, aspek sanitasi juga menjadi perhatian utama dalam program tersebut. Menurutnya, sanitasi yang baik akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan penghuni rumah.

Baca juga: Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

“Setelah genteng adalah sanitasi untuk kesehatan rumah tangga, sanitasi harus sehat,” jelasnya.

Pembiayaan Renovasi Rumah

Setyo menambahkan, dalam program pemerintah tersebut terdapat alokasi subsidi untuk renovasi rumah, termasuk untuk perbaikan genteng dan sanitasi. 

“Jadi alokasi rumah dari bujet pemerintah nanti ada subsidi untuk itu,” jelasnya.

BTN, kata Setiyo, berperan sebagai bank penyalur subsidi pemerintah yang secara khusus ditujukan bagi renovasi rumah masyarakat.

Menurutnya, pembiayaan renovasi ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti perbaikan genteng, peningkatan sanitasi, hingga kebutuhan renovasi lainnya. 

Namun, BTN menegaskan bahwa pembiayaan difokuskan pada proses renovasinya, bukan pada pengadaan material genteng secara langsung.

Baca juga: Saham BBTN Menguat 3,27 Persen, Catat Kenaikan YTD Tertinggi Bank BUMN

“Tapi yang kita biayakan bukan gentengnya, tetapi renovasinya. Termasuk jika ada teman-teman startup yang ingin provide menyediakan material genteng ramah lingkungan, itu bisa digunakan,” katanya.

Meski begitu, dirinya juga menyoroti pentingnya proses pengujian material, terutama untuk produk genteng ramah lingkungan yang masih dalam tahap pengembangan. 

Di mana, material tersebut perlu melalui uji ketahanan, seperti kekuatan terhadap beban dan ketahanan terhadap air, sebelum dapat digunakan secara luas.

“Saat coba harus diinjak-injak kuat atau tidak, kena air rusak atau tidak. Jadi perlu waktu untuk persiapan, pengembangan mesin, dan lainnya. Tidak bisa langsung jadi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menggagas gerakan nasional penggantian atap seng menjadi genteng berbahan tanah liat atau gentengisasi sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas permukiman dan estetika lingkungan di Indonesia.

Ia menilai, penggunaan atap seng masih mendominasi rumah-rumah warga di berbagai daerah. Di mana, dominasi atap seng tidak hanya memengaruhi tampilan lingkungan, tetapi juga berdampak pada kenyamanan masyarakat karena bersifat panas dan rentan berkarat.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan anggaran belanja untuk program gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo menelan dana sekitar Rp1 triliun.

Purbaya menjelaskan, anggaran program tersebut akan bersumber dari dana cadangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

“Gentengisasi tidak sampai Rp1 triliun. Kita juga ambil dari dana cadangan,” kata Purbaya usai acara Indonesia Economic Summit 2026, Selasa, 3 Februari 2026.

Menurutnya, dana cadangan yang dimaksud berpotensi berasal dari Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN).

Selain itu, tidak menutup kemungkinan anggaran diperoleh melalui realokasi dari program lain, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Kementerian/Lembaga (K/L) lain. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

BNI Ingatkan Nasabah Waspada Modus Phishing Jelang Lebaran

Poin Penting BNI mengingatkan lonjakan transaksi Ramadan dan pencairan THR meningkatkan risiko kejahatan siber, khususnya… Read More

23 mins ago

Bank Mega Gandeng IKPI Perkuat Pemahaman Coretax ke Nasabah

Poin Penting PT Bank Mega menggandeng IKPI dan FlazzTax menggelar Seminar Coretax untuk mengedukasi nasabah… Read More

12 hours ago

40 Juta UMKM Belum Berizin, BKPM Siap Permudah Proses NIB

Poin Penting 15,2 juta NIB diterbitkan, 14,9 juta untuk usaha mikro; masih ada 40 juta… Read More

13 hours ago

Purbaya Sesuaikan Strategi Penempatan Dana di Perbankan dengan Kebijakan BI

Poin Penting Pemerintah memperpanjang penempatan Rp200 triliun di bank-bank milik negara hingga September 2026 untuk… Read More

13 hours ago

Duh! Program MBG Berpotensi Buang Uang Negara Rp1,27 Triliun per Minggu

Poin Penting Studi CELIOS menunjukkan Program MBG bisa membuang 62–125 juta porsi/minggu, merugikan negara Rp622… Read More

15 hours ago

OJK Tegaskan Tak Ada “Injury Time” Spin Off UUS Asuransi

Poin Penting OJK menegaskan tidak ada perpanjangan waktu, semua UUS asuransi wajib spin off paling… Read More

15 hours ago