Market Update

BRIDS Proyeksikan Ekonomi 2026 Tumbuh Berkelanjutan, Ini Dua Pendorongnya

Poin Penting

  • Pertumbuhan ekonomi 2026 ditopang konsumsi dan investasi, dengan konsumsi menjaga momentum jangka pendek dan investasi memperkuat pertumbuhan jangka panjang.
  • FDI makin produktif, hampir 60% mengalir ke sektor manufaktur bernilai tambah seperti logam dasar, kimia, dan elektronik.
  • Kondisi keuangan diproyeksikan kondusif, didukung pelonggaran moneter dan stabilitas yield obligasi, meski risiko global masih ada.

Jakarta – BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan Macro Outlook 2026 menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan tidak hanya ditopang oleh permintaan domestik jangka pendek, tetapi juga oleh penguatan pembentukan modal.

Pergeseran tersebut menandai transisi ekonomi Indonesia dari sekadar menjaga momentum pertumbuhan menuju penguatan kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan dalam jangka menengah hingga panjang.

Laporan tersebut menyoroti dua mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Konsumsi rumah tangga tetap berperan sebagai penopang jangka pendek, seiring membaiknya daya beli dan stabilitas harga. 

Baca juga: Kolaborasi BRIDS dan Pegadaian Hadirkan Layanan Gadai Efek Online

Sementara itu, investasi yang lebih terfokus menjadi pendorong utama peningkatan produktivitas dan kapasitas ekonomi dalam jangka menengah hingga panjang. 

Kombinasi konsumsi dan investasi tersebut dinilai krusial untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas rata-rata negara selevel, meskipun lingkungan global masih dipenuhi berbagai tantangan.

FDI Manufaktur Perkuat Struktur Ekonomi Nasional

Sejalan dengan hal tersebut, arus penanaman modal asing langsung (foreign direct investment / FDI) menunjukkan pergeseran yang semakin produktif. Hampir 60 persen aliran FDI mengarah ke sektor manufaktur, seperti logam dasar, kimia, mesin, dan elektronik.

Pergeseran ini mencerminkan penguatan struktur ekonomi nasional melalui investasi bernilai tambah yang berkontribusi langsung terhadap peningkatan kapasitas produksi dan daya saing industri.

Baca juga: BRIDS dan BRI Hadirkan Layanan Investasi bagi Nasabah Prioritas

Chief Economist and Macro Strategist BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menilai bahwa meningkatnya dominasi FDI di sektor manufaktur menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

“Investasi berbasis manufaktur memiliki efek berganda yang lebih besar terhadap perekonomian, mulai dari peningkatan pembentukan modal tetap, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan basis industri nasional,” kata Helmy dalam risetnya di Jakarta, Jumat, 19 Desember 2025.

Lebih lanjut, laporan tersebut mencatat bahwa setiap Rp1 triliun FDI berkontribusi sekitar Rp1,13 triliun terhadap pembentukan modal tetap atau Gross Fixed Capital Formation.

Tentunya, dampak tersebut mempertegas peran investasi asing sebagai salah satu pilar penting dalam memperkuat kapasitas produksi nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas.

Pasar Keuangan Diproyeksikan Lebih Kondusif

Adapun dari sisi pasar keuangan, seiring masuknya bank sentral global dan domestik ke fase pelonggaran, kondisi pasar keuangan Indonesia diperkirakan menjadi lebih kondusif. 

Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak dalam kisaran 5,6–6,1 persen, mencerminkan stabilitas yang mendukung pembiayaan pemerintah maupun dunia usaha.

Meski risiko global masih membayangi, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin solid dinilai memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Baca juga: BSI Tunjuk BRIDS Jadi Penjamin Pelaksana Emisi Efek Sukuk Senilai Rp3 Triliun

Dengan fondasi makroekonomi yang lebih seimbang, Indonesia diperkirakan memasuki 2026 dengan ruang yang lebih besar untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen secara year-on-year pada kuartal II 2025, dengan pertumbuhan kumulatif semester I 2025 yang mendekati 5 persen. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Ekspansi Ritel, MR.DIY Indonesia Siap Tambah 270 Toko dan Flagship Store di 2026

Poin Penting MR.DIY Indonesia menargetkan pembukaan sekitar 270 toko baru pada 2026. Ekspansi didukung arus… Read More

4 hours ago

Geopolitik dan Harga Minyak Bayangi Ekonomi 2026, Permata Bank Lakukan Strategi Ini

Poin Penting Ekonom Permata Bank menilai geopolitik dan pasar global menjadi tantangan ekonomi 2026. Konflik… Read More

5 hours ago

Klaim Bencana Sumatra Belum Tuntas, Jasindo Targetkan Finalisasi Mei 2026

Poin Penting Jasindo masih memverifikasi kerusakan aset akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Nilai kerugian… Read More

6 hours ago

Ekonom Ingatkan PR Besar Pimpinan Baru OJK, dari Pasar Modal hingga Risiko BPR

Poin Penting Ekonom Permata menilai kepemimpinan baru OJK diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Transformasi integritas… Read More

6 hours ago

ICDX Gelar Commodity Outlook 2026

Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mengadakan ICDX… Read More

6 hours ago

KPK Tahan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Poin Penting KPK resmi menahan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait kasus kuota haji.… Read More

7 hours ago