Moneter dan Fiskal

BRI Proyeksikan BI Rate bisa Dipangkas jadi 4,75 Persen pada 2025

Jakarta – Chief Economist BRI Anton Hendranta memproyeksikan suku bunga Bank Indonesia (BI) atau BI-rate akan berpeluang dipangkas sebesar 50 basis poin (bps) di sisa tahun 2024.

“Tahun ini BI akan punya peluang menurunkan suku bunga 50 bps. Tahun 2024 September bisa turun, Desember turun lagi,” kata Anton dalam Forum Group Discussion Infobank, Kamis 12 September 2024.

Anton menyebut BI, seharusnya pemerintah berani untuk mengambil kebijakan yang forward looking dalam memangkas suku bunganya. Pasalnya, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed memberikan sinyal untuk menurunkan suku bunganya di September 2024.

“Mestinya the Fed turun bunga, BI duluan memutuskan duluan sebaiknya, tidak perlu ragu-ragu karena ekonomi kita melambat di semester II 2024,” jelasnya.

Baca juga: INDEF Desak BI Pangkas Suku Bunga Acuan, Ini Alasannya

Lebih lanjut, perekonomian RI di kuartal II 2024 memang masih berada di angka 5,05 persen, yang pada kuartal I ditopang oleh Pemilu dan kuartal II di dorong dengan hari besar keagamaan seperti, Idulfitri, Iduladha, dan Waisak, serta liburan sekolah.

Sementara, di kuartal III dan kuartal IV hampir tidak ada penopang pertumbuhan ekonomi, kecuali liburan tahun baru dan Pilkada yang tak begitu signifikan dampaknya.

Di samping itu, untuk tahun 2025 Anton juga meramalkan BI-rate juga akan turun sebesar 100 bps. Artinya, dengan posisi BI-rate saat ini sebesar 6,25 persen, lalu dipangkas 50 bps hingga akhir 2024 maka suku bunga akan berada di level 5,75 persen.

Baca juga: Sinyal Pemangkasan Suku Bunga AS Menguat, Reksa Dana Ini Diprediksi Bakal Moncer

Sehingga, jika tahun 2025 dipangkas lagi sebesar 100 bps, maka suku bunga BI akan berada di level 4,75 persen. Angka ini kembali seperti pada Okotber tahun 2022.

Anton menambahkan, jika BI-rate terus menurun atau kebijakan moneter BI yang semakin longar, maka ini dapat mendorong daya beli masyarakat di 2025.

“Dengan kebijakan moneter BI yang relatif longgar tahun 2025 melalui penurunan BI-rate, kemudian diharapkan pengeluaran pemerintah lebih ekspansif, menunjukan bahwa ketika pengeluaran pemerintah lebih ekspansif maka itu bisa mendorong daya beli riil masyarkat,” pungkasnya. (*)

Editor : Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Purbaya Disebut Temukan Data Uang Jokowi Ribuan Triliun di Bank China, Kemenkeu: Hoaks!

Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa informasi yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa… Read More

3 hours ago

Lewat AKSes KSEI, OJK Dorong Transparansi dan Pengawasan Pasar Modal

Poin Penting OJK mendorong keterbukaan informasi pasar modal melalui sistem pelaporan elektronik AKSes KSEI dan… Read More

5 hours ago

Penjualan Emas BSI Tembus 2,18 Ton, Mayoritas Pembelinya Gen Z dan Milenial

Poin Penting Penjualan emas BSI tembus 2,18 ton hingga Desember 2025, dengan jumlah nasabah bullion… Read More

5 hours ago

Transaksi Syariah Card Melonjak 48 Persen, Ini Penopangnya

Poin Penting Transaksi Syariah Card Bank Mega Syariah melonjak 48% pada Desember 2025 dibandingkan rata-rata… Read More

5 hours ago

Purbaya Siapkan Jurus Baru Berantas Rokok Ilegal, Apa Itu?

Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tengah membahas penambahan satu lapisan cukai rokok untuk memberi… Read More

5 hours ago

Permata Bank Mulai Kembangkan Produk Paylater

Poin Penting Permata Bank mulai mengkaji pengembangan produk BNPL/paylater, seiring kebijakan terbaru regulator, namun belum… Read More

6 hours ago