Ekonomi dan Bisnis

BPK Diminta Segera Audit Kerugian Proyek Budidaya Jagung

Jakarta – Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Banten meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menghitung dugaan kerugian keuangan negara dari proyek penerapan budidaya jagung program produktivitas produksi dan mutu hasil tanaman pada bidang tanaman pangan Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten.

Asal tahu saja anggaran untuk penerapan budidaya jagung program produktivitas produksi itu sendiri mencapai Rp68,7 milliar, yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pasalnya, pihak penyidik juga telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi terkait dugaan kerugian negara dari proyek penerapan budidaya itu.

“Penyidik kini menunggu hasil audit dari BPK terkait dengan angka kerugian negara. Kalau audit sudah ada, kita bisa lanjutkan, misalnya terkait pengembangan status tersangka dan peranannya,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Banten Ajun Komisaris Besar Polisi Edy Sumardi Priadinata, di Jakarta, seperti dikutip, Rabu, 12 Desember 2018.

Dia mengatakan, pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi terkait dugaan kasus korupsi dana budidaya jagung di Banten yang dilaksanakan sejak Januari-Desember 2017 dengan target lahan seluas 187 ribu hektare. Sejumlah pejabat Dinas Pertanian Proivinsi Banten sudah diperiksa. Dokumen kontrak, berita acara serah terima barang, dan dokumen pembayaran juga diamankan sebagai barang bukti.

Soal pemanggilan pejabat Kementerian Pertanian pusat dalam kasus ini, ia memastikan akan dilakukan, tergantung dinamika penyidikan. “Saya kemarin sudah komunikasi dengan pak Direktur (Direktorat Reserse Kriminal Khusus) bahwa saat ini masih terus dilakukan pemeriksaan, namun kita belum bisa ungkap rinciannya peran-peran dan saksi-saksinya,” tutur Edy.

Baca juga: Kebijakan Pinjam Jagung Pemerintah Bumerang Bagi Iklim Investasi

Menyikapi dugaan korupsi program produktivitas jagung di Banten ini, Koordinator Barisan Rakyat Anti Korupsi (Barak) Danil menambahkan, Polda Banten harus mengembangkan penyidikan dengan memeriksa pejabat Kementan. Sebaiknya Polda dan Kejati Banten tak hanya melakukan penyelidikan  sebatas Distanak Banten, tapi wajib melakukan pengembangan hingga ke Kementan.

Di sisi lain, dirinya juga  mendesak penyidik Ditreskrimsus Polda Banten mengusut dugaan korupsi anggaran APBN tersebut dengan memeriksa Menteri Pertanian agar diketahui penyimpangan dana itu direncanakan sejak awal atau tidak.

“Jika ditelisik dari luas lahan pertanian jagung di Provinsi Banten. Lahan 187.000 Hektar itu sangat luas. Ada tidak lahan untuk pengembangan budi daya jagung seluas itu di Banten? Kalau tidak, maka patut diduga bahwa kasus dugaan korupsi ini sudah direncanakan dengan matang sejak awal,” tegasnya.

Danil menjelaskan, petani punya jasa besar menjaga kedaulatan pangan di negeri ini. Tidak mungkin sebuah negara berdaulat jika pangannya “dijajah” dengan perilaku korup penyelenggara negara.

“Jangan sampai kasus ini hanya berhenti sampai Distanak Banten. Harus dibentuk tim khusus untuk mengusut sistem penganggaran di Kementan. Kenapa Kementan berani menggelontorkan anggaran begitu besar didaerah yang luas lahannya patut diragukan? Memangnya berapa produksi jagung nasional yang berasal dari Banten setiap tahunnya? Alih fungsi lahan menggila kok anggaran budi daya jagung begitu besar,” tegasnya.

Untuk itu, Polda Banten diharapkan lebih bekerja sama dengan Bareskrim Mabes Polri agar lebih efektif. Karena, bisa jadi kasus yang terungkap di Banten ini hanya contoh kecil dari “bobroknya” sistem penganggaran di Kementan. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

OTT KPK di Bea Cukai: Eks Direktur P2 DJBC Ditangkap, Uang Miliaran-Emas 3 Kg Disita

Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu dan menangkap Rizal, mantan Direktur… Read More

8 hours ago

Istana Bantah Isu 2 Pesawat Kenegaraan untuk Prabowo, Ini Penjelasannya

Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More

8 hours ago

BTN Targetkan Pembiayaan 20.000 Rumah Rendah Emisi pada 2026

Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More

8 hours ago

Apa Untungnya Danantara Masuk Bursa Saham? Ini Kata Pakar

Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More

9 hours ago

BTN Ungkap Penyebab NPL Konstruksi Tinggi, Fokus Bereskan Kredit Legacy

Poin Penting NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan… Read More

9 hours ago

Risiko Bencana Tinggi, Komisi VIII Minta Anggaran dan Sinergi Diperkuat

Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More

9 hours ago