Jakarta – Kondisi ekonomi yang berubah-ubah, termasuk naik-turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-rate), bukanlah hal yang mengkhawatirkan bagi industri asuransi umum.
Presiden Direktur Sompo Insurance Indonesia, Eric Nemitz, menegaskan bahwa hal tersebut adalah bagian dari dinamika ekonomi yang wajar dan sudah diperhitungkan oleh pelaku industri.
“Kami tidak pernah menganggap hal ini (penurunan BI-rate) sebagai masalah besar bagi kami, karena ini adalah hal yang umum terjadi dalam ekonomi,” ujar Eric saat ditemui di Jakarta, Rabu (28/5).
Baca juga: Ini Dia Tiga Lini Bisnis Pendongkrak Laba Sompo Insurance hingga 45,3 Persen
Menurut Eric, suku bunga dan inflasi memang memengaruhi banyak sektor, termasuk asuransi umum. Namun, yang terpenting bagi perusahaan asuransi adalah tetap menjalankan tugas utamanya, yaitu membayar klaim kepada nasabah.
“Tugas kami bukan membuat kebijakan ekonomi, tapi membayar klaim dan membantu nasabah. Itu yang paling penting,” katanya.
Eric menjelaskan bahwa ketika suku bunga naik atau inflasi meningkat, harga-harga juga ikut naik. Misalnya, dalam asuransi mobil, harga perbaikan dan suku cadang akan lebih mahal. Hal itu otomatis berdampak pada nilai klaim yang harus dibayarkan oleh perusahaan asuransi.
“Kalau kita harus perbaiki mobil, tentu biaya bengkel dan suku cadang sekarang lebih mahal karena inflasi. Itu pasti memengaruhi,” ujar Eric.
Karena itu, perusahaan biasanya melakukan penyesuaian premi secara berkala agar nilai perlindungan tetap sesuai dengan kondisi ekonomi.
Salah satu tantangan terbesar, lanjut Eric, adalah pada polis jangka panjang seperti asuransi properti. Jika ada klaim setelah 10 tahun sejak polis dibeli, maka nilai perbaikan tentu sudah jauh berbeda dibanding saat awal pembelian polis.
Baca juga: Ma’ruf Amin Soroti Tantangan Regulasi dalam Akselerasi Industri Asuransi Syariah
“Kadang nasabah punya polis yang dibeli 10 tahun lalu, dan baru terjadi kerusakan sekarang. Kita tetap harus bayar, tapi harga sekarang tentu beda jauh dibanding dulu. Itu perlu penyesuaian,” katanya.
Meski begitu, Eric tetap optimis. Ia melihat bahwa fluktuasi suku bunga adalah hal yang normal dan kebijakan tersebut pada dasarnya bertujuan untuk menjaga kestabilan ekonomi—yang juga menguntungkan sektor keuangan, termasuk asuransi.
“Kadang suku bunga naik, kadang turun. Tapi tujuannya jelas, untuk menjaga stabilitas ekonomi. Dan itu justru membantu kami dalam jangka panjang,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri
Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group EKONOMI politik perbankan Indonesia sedang sakit.… Read More
Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More
Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More
Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More