Poin Penting
Jakarta – Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, meyakini reformasi pasar modal Indonesia yang telah dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu mendorong pasar modal jauh lebih kuat.
“Saya yakin dengan peraturan-peraturan baru yang akan nanti diterapkan, itu eventually akan membuat market kita jauh lebih legit. Jadi yang jauh lebih legit, jauh lebih transparan, governance-nya lebih bagus,” ucap Oki kepada media dikutip, 26 Februari 2026.
Oki menambahkan penerapan kebijakan pasar modal nantinya akan mendorong semakin banyak saham yang ditawarkan, dengan fundamental perusahaan tercatat yang kuat, sehingga menarik investor asing dan domestik kembali menempatkan dananya ke pasar saham Indonesia.
Baca juga: OJK Catat Denda Pasar Modal Rp542,49 Miliar sejak 2022, Ini Rinciannya
“Kalau misalkan saham yang ditawarkan lebih banyak, perusahaannya bagus, fundamental bagus, kan sayang banget kalau nggak dimiliki oleh investor, baik itu domestik maupun luar negeri. Jadi intinya nggak cuma retail investor,” imbuhnya.
Selain itu, salah satu kebijakan reformasi pasar modal yang akan diterapkan adalah peningkatan minimum saham free float menjadi 15 persen. Harapannya, mampu mendorong pasar lebih likuid lagi dan menjadi tolak ukur investor asing untuk kembali masuk ke Indonesia.
“The real free float yang real liquidity. (Momentum yang ditunggu investor asing?) Liquidity. Saya yakin mereka akan lihat. Fundamentalnya bagus, ceritanya bagus, growth story-nya bagus. It’s just a matter of time sebelum liquidity itu balik ke market,” ujar Oki.
Untuk diketahui, sejak awal tahun hingga 24 Februari 2026 investor asing masih tercatat outflow sebanyak Rp18,64 triliun. Angka tersebut merupakan dampak dari hasil konsultasi MSCI terhadap Indonesia pada akhir Januari lalu.
Oleh karena itu, OJK dan BEI telah mengajukan proposal kepada MSCI, dengan empat poin utama, antara lain pengungkapan (disclosure) pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen serta penyediaan data investor yang lebih granular.
Baca juga: Reformasi Pasar Saham: Antara Obat Pereda “Goreng Saham” dan “Akrobat” Saham Konglo
Poin lainnya terkait dengan ketentuan minimum free float sebesar 15 persen dari 7,5 persen, lalu perluasan jenis klasifikasi investor saham dari sembilan menjadi 28 investor saham, hingga penerbitan shareholders concentration list.
BEI memastikan proses penyusunannya dilakukan secara akuntabel dan sesuai prosedur dan saat ini tengah dilakukan finalisasi metodologi serta standar operasional prosedur (SOP) yang akan menjadi dasar penyusunan daftar tersebut. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting BRI membuka peluang rasio dividen 2025 lebih tinggi, didukung CAR kuat di level… Read More
Poin Penting Grab melalui A5-DB Holdings menambah kepemilikan saham Superbank (SUPA) sebanyak 253,91 juta saham… Read More
Oleh Rahma Gafmi, Guru Besar Universitas Airlangga BANK Indonesia (BI) melaporkan bahwa neraca pembayaran Indonesia… Read More
Poin Penting BRI mencatat laba Rp57,13 triliun pada 2025, turun 5,26 persen yoy, sementara kredit… Read More
Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,40 persen ke level 8.355,28 pada pukul 09.00 WIB, dengan… Read More
Poin Penting Harga emas Galeri24 hari ini anjlok Rp28.000 ke Rp3.057.000 per gram, sementara UBS… Read More