News Update

Bos BTN: KPP Jadi Solusi untuk Dukung Kepemilikan Rumah Sektor Informal

Poin Penting

  • KPP dirancang khusus bagi wiraswasta dan UMKM yang sulit mengakses KPR subsidi FLPP, dengan plafon hingga Rp500 juta untuk pembelian, renovasi, atau pembangunan rumah/tempat usaha
  • KPP menawarkan margin lebih menarik dibanding FLPP karena skema subsidi bunga negara, menjadikannya salah satu mesin pertumbuhan kredit baru BTN pada 2026
  • Komisi VI DPR mendukung peningkatan alokasi KUR perumahan BTN karena realisasi yang baik dan efek berganda sektor perumahan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Jakarta – Kredit Program Perumahan (KPP) yang telah diluncurkan pemerintah pada Oktober 2025 bisa menjadi solusi untuk kepemilikan rumah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang selama ini aksesnya terbatas dalam mendapatkan subsidi pemerintah.

Demikian dikatakan Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Senin (26/1).

Dia melanjutkan, program KPP yang sebelumnya bernama KUR Perumahan memang diperuntukkan bagi para wiraswasta atau pemilik usaha. Hal ini berbeda dengan program KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang diperuntukkan bagi pekerja formal berpenghasilan tetap (fixed income).

“KPP adalah semacam KPR kepada wiraswasta, karena selama ini wiraswasta agak susah masuk ke paket FLPP. Jumlahnya dari sisi porsi sangat kecil dibandingkan dengan yang fixed income,” tutur Nixon.

Untuk memecahkan masalah tersebut, kata Nixon, pemerintah membuat KPP sebagai program khusus untuk kepemilikan rumah bagi wiraswasta, baik di sisi supply maupun demand.

Baca juga: BTN Mau Dirikan Anak Usaha Asuransi dan Multifinance, Siapkan Dana Segini

Di sisi supply, yaitu para developer kecil, plafonnya tersedia hingga Rp5 miliar dan dapat direvolving hingga empat kali putaran, sehingga potensinya dapat mencapai Rp20 miliar.

Sementara untuk pedagang, kata Nixon, plafonnya ditetapkan hingga Rp500 juta untuk pembelian, renovasi rumah, atau membangun rumah untuk tempat usaha.

“Jadi ini akan menyelesaikan persoalan kepemilikan rumah bagi kalangan wiraswasta untuk keperluan kios usaha dan tempat tinggal mereka, karena biasanya wiraswasta memiliki rumah yang merangkap gudang atau tempat usaha. Untuk UMKM, sulit dibedakan antara tempat tinggal dan tempat usaha,” papar Nixon.

Profitabilitas bagi Perseroan

Nixon menilai, KPP memiliki potensi yang cukup baik bagi BTN untuk meningkatkan profitabilitasnya, karena program ini menawarkan margin yang lebih baik dibandingkan program KPR Sejahtera FLPP yang suku bunganya dipatok maksimal 5 persen.

Selama ini, kata Nixon, BTN yang menjadi penyalur terbesar KPR FLPP memiliki yield yang rendah dibanding bank-bank lain karena faktor bunga yang dipatok di 5 persen.

Baca juga: Genjot Bisnis, BTN Bakal Lakukan Sejumlah Aksi Korporasi Tahun Ini

“Yang menarik, KPP memiliki pola berbeda, bunganya disubsidi oleh negara. Jadi, bunga ke masyarakat tetap 6 persen, tapi BTN dapat subsidi 5-5,5 persen, jadi ini lebih baik (dari sisi margin). Ini sedang kami pasarkan di berbagai daerah,” ungkapnya.

Sebelumnya, Nixon menyebutkan bahwa KPP akan menjadi salah satu mesin kredit baru bagi BTN pada tahun 2026 karena pemerintah melalui Kementerian Koordinator Perekonomian mengalokasikan sebesar Rp130 triliun. Rinciannya, terdiri dari Rp113 triliun di sisi supply (pembangunan) dan Rp17 triliun untuk sisi demand (pembelian/KPR).

Sejak peluncuran program tersebut, BTN masih menjadi penyalur KPP terbesar di antara bank-bank lainnya, sejalan dengan upaya perseroan mendukung program Tiga Juta Rumah yang diusung pemerintah.

“Program KPP ini akan menjadi solusi baru kepemilikan perumahan bagi wiraswasta, sektor informal UMKM yang selama ini sulit memiliki akses hunian. Mudah-mudahan dapat menjadi jawaban bagi masyarakat ke depannya untuk bisa memiliki rumah,” ujar Nixon.

Dukungan DPR

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap peningkatan alokasi Kredit Usaha Rakyat (KUR), khususnya yang berkaitan dengan sektor perumahan untuk BTN.

Pasalnya, kata Herman, realisasi KUR BTN relatif baik dibandingkan bank lainnya. Selain itu, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, sektor perumahan memiliki efek berganda yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Penambahan kuota KUR BTN dapat mendorong pengembang kecil dan menengah meningkatkan pembangunan perumahan rakyat, sekaligus mendukung program pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan hunian,” kata Herman.

Secara umum, Herman mengapresiasi kinerja BTN yang positif di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian dan berbagai tantangan, seperti tekanan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga kebijakan proteksionisme perdagangan. Hal ini mencerminkan perbankan nasional memiliki ketahanan dan kehandalan dalam pengelolaan keuangannya.

Herman berharap, BTN dapat terus meningkatkan kualitas layanannya dan memastikan bahwa pelayanan prima tersebut dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

KB Bank Ramadan Berbagi 2026: Menguat dalam Kebersamaan, Tumbuh dengan Keberkahan

Jakarta - PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) menggelar kegiatan buka puasa bersama dengan… Read More

2 hours ago

Tragedi Bantargebang Terulang, Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 4 Orang

Poin Penting: Longsor gunungan sampah di Bantargebang menewaskan empat orang dan kembali menyoroti krisis pengelolaan… Read More

2 hours ago

Belum Mampu Rebound, IHSG Ditutup pada Level 7.337

Poin Penting IHSG ditutup melemah 3,27 persen ke level 7.337 pada perdagangan 9 Maret 2026.… Read More

2 hours ago

Panglima TNI Siaga 1: Pasukan dan Alutsista Disiapkan, Ada Apa?

Poin Penting: Status Siaga 1 TNI merupakan tingkat kesiapan tertinggi di militer yang menandakan pasukan,… Read More

2 hours ago

Harga Minyak Sempat Tembus USD100 per Barel, Purbaya Buka Suara soal APBN dan BBM

Poin Penting Pemerintah akan mengevaluasi pergerakan harga minyak dunia selama satu bulan sebelum menentukan kebijakan… Read More

3 hours ago

RUPST BNI Sepakat Tebar Dividen Rp13,02 Triliun atau 65 Persen dari Laba 2025

Poin Penting RUPST BNI menyetujui pembagian dividen Rp13,02 triliun dari laba bersih 2025. Nilai tersebut… Read More

3 hours ago