Perbankan

Bos BI Ungkap Alasan Suku Bunga Kredit dan Deposito Lambat Turun

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan alasan suku bunga kredit maupun deposito perbankan masih relatif tinggi, meski BI Rate sudah dipangkas sebanyak lima kali sepanjang 2025 dengan total sebesar 125 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen pada September 2025.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, penurunan suku bunga simpanan berjalan lambat karena perbankan masih memberikan special rate kepada deposan besar.

Hal itu membuat bunga deposito hanya turun tipis 16 bps, dari 4,81 persen pada awal 2025 menjadi 4,65 persen pada Agustus 2025.

“Salah satu faktornya adanya special rate pada deposan besar yang jumlahnya Rp2.384 triliun adalah sekitar 25,4 persen dari total Dana Pihak ketiga (DPK),” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, dikutip, Kamis, 18 September 2025.

Baca juga: Breaking! BI Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 4,75 Persen di September 2025

Menurut Perry, perlambatan juga terjadi pada suku bunga kredit perbankan. Hingga Agustus 2025, bunga kredit hanya turun 7 bps dari 9,20 persen menjadi 9,13 persen. “Dan juga tentu saja itu juga membuat suku bunga perbankan berjalan lebih lambat. Suku bunga kredit perbankan baru turun sebesar 7 basis poin,” ungkapnya.

Selain itu, permintaan kredit dinilai belum tumbuh kuat. Hal ini terlihat dari rasio undisbursed loan yang masih tinggi, yakni Rp2.372,11 triliun atau 22,71 persen dari plafon kredit yang tersedia pada Agustus 2025.

Rasio tersebut terutama berasal dari sektor industri, pertambangan, jasa dunia usaha, dan perdagangan untuk kredit modal kerja.

“Jadi kredit yang sudah diberikan bank itu pun memang juga belum semuanya digunakan oleh perbankan dan karena itu tecermin pada tentu saja adalah dalam undisbursed loan yang jumlahnya Rp2.372,11 triliun atau sebesar 22,71 persen dari platform yang tersedia,” imbuhnya.

Baca juga: Stop! Kriminalisasi Kredit Macet di Tengah “Oksigen” Kucuran Rp200 Triliun

Perry menegaskan, BI memandang perlu adanya percepatan penurunan bunga deposito dan kredit agar mendorong penyaluran pembiayaan. Langkah ini sejalan dengan Program Asta Cita pemerintah untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

Laba Astra Otoparts (AUTO) Tembus Rp2,20 Triliun di 2025, Cetak Rekor Baru

Poin Penting Astra Otoparts (AUTO) membukukan laba bersih Rp2,20 triliun pada 2025, meningkat dari Rp2,03… Read More

2 mins ago

Kemenkeu: Program MBG Serap Anggaran Rp36,6 Triliun hingga 21 Februari

Poin Penting Program MBG telah menyerap Rp36,6 triliun hingga 21 Februari 2026, setara 10,9% dari… Read More

16 mins ago

Respons BSI soal Perpanjangan Penempatan Dana SAL Rp200 Triliun

Poin Penting Pemerintah perpanjang penempatan dana SAL Rp200 triliun hingga September 2026 untuk menjaga likuiditas… Read More

33 mins ago

Harga Emas Antam Cs Naik Serentak, Ini Rincian Lengkapnya

Poin Penting Harga emas Antam, Galeri24, dan UBS kompak naik pada 24 Februari 2026 di… Read More

2 hours ago

Rupiah Dibuka Melemah di Level Rp16.835 per Dolar AS, Dipicu Sentimen Global

Poin Penting Rupiah dibuka melemah 0,20% ke level Rp16.835 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya… Read More

2 hours ago

Bank INA Optimistis Kredit Tumbuh 15–20 Persen di 2026, Lampaui Target OJK

Poin Penting Bank INA optimistis mampu melampaui target pertumbuhan kredit 8–12 persen dari OJK dengan… Read More

3 hours ago