Moneter dan Fiskal

Bos BI Optimistis Rupiah Bakal Kembali Menguat, Ini Alasannya

Poin Penting

  • BI optimistis rupiah menguat secara fundamental, ditopang inflasi rendah, prospek pertumbuhan ekonomi membaik, hingga imbal hasil investasi menarik
  • Pelemahan rupiah bersifat jangka pendek dan teknikal hingga dipicu ketidakpastian pasar keuangan global, aliran keluar modal asing, serta meningkatnya permintaan valas
  • BI memperkuat stabilisasi rupiah ke depan melalui intervensi terukur di pasar NDF, DNDF, dan spot, serta penguatan operasi moneter yang pro-market.

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimis nilai tukar rupiah akan menguat secara fundamental. Keyakinan ini didorong oleh inflasi rendah, pertumbuhan ekonomi yang akan membaik, imbal hasil investasi yang menarik, dan komitmen BI dalam stabilisasi nilai tukar rupiah.

“(Pelemahan) nilai tukar ini adalah karena faktor-faktor kita sebut technical, faktor-faktor karena jangka pendek. Secara fundamental, nilai tukar rupiah itu akan menguat,” kata Perry dalam konferensi pers KSSK, Selasa, 27 Januari 2026.

Perry menyebutkan, nilai tukar rupiah pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp16.675 per dolar AS melemah 3,48 persen poin to poin (ptp) dibandingkan akhir 2024. Selanjutnya, hingga 23 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp16.815 per dolar AS, atau mengalami pelemahan sebesar 0,83 persen dibandingkan dengan level akhir Desember 2025.

Baca juga: Bos LPS Sentil Bank yang Belum Turunkan Suku Bunga Simpanan
Baca juga: Rupiah Diproyeksi Menguat Terbatas, Investor Timbang Faktor Thomas Jadi DG BI

Ia mengungkapkan, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

“Selain itu, kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik yang sejalan dengan kegiatan ekonomi, turut memengaruhi kinerja rupiah,” pungkasnya.

Ke depan, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah termasuk melalui intervensi terukur di transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non- Deliverable Forward (DNDF), dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter pro- market. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Unitlink Dikelola Selektif, MNC Life Utamakan Transparansi ke Nasabah

Poin Penting MNC Life fokus pertumbuhan berkualitas dengan menyeimbangkan ekspansi bisnis, kualitas investasi, dan manajemen… Read More

2 hours ago

Kantongi Restu RUPST, BNI Siap Eksekusi Buyback Saham Rp905,48 Miliar

Poin Penting BBNI setuju melakukan buyback saham Rp905,48 miliaruntuk stabilisasi harga dan fleksibilitas modal Saham… Read More

2 hours ago

KB Bank Ramadan Berbagi 2026: Menguat dalam Kebersamaan, Tumbuh dengan Keberkahan

Jakarta - PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) menggelar kegiatan buka puasa bersama dengan… Read More

4 hours ago

BEI Perkenalkan IDX Mobile Sharia, Permudah Akses Investasi Saham Syariah

Poin Penting BEI luncurkan IDX Mobile Sharia untuk memudahkan masyarakat belajar dan berinvestasi di pasar… Read More

4 hours ago

Tragedi Bantargebang Terulang, Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 4 Orang

Poin Penting: Longsor gunungan sampah di Bantargebang menewaskan empat orang dan kembali menyoroti krisis pengelolaan… Read More

4 hours ago

Belum Mampu Rebound, IHSG Ditutup pada Level 7.337

Poin Penting IHSG ditutup melemah 3,27 persen ke level 7.337 pada perdagangan 9 Maret 2026.… Read More

4 hours ago