Presiden Komisaris BCA, Jahja Setiaatmadja borong saham BBCA pada 2 Februari 2026. (Foto: Istimewa)
Jakarta – Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, menanggapi isu dampak dari kebijakan tarif resiprokal yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terhadap industri perbankan di Indonesia.
Jahja menjelaskan bahwa pihaknya, sebagai pelaku sektor perbankan, belum dapat memberikan komentar mendalam. Hal ini dikarenakan pemerintah Indonesia masih dalam tahap negosiasi dengan Pemerintah AS, sementara Trump sendiri masih menunda implementasi kebijakan tersebut.
Meski begitu, Jahja menyampaikan bahwa kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi sejumlah sektor industri yang dominan melakukan ekspor ke AS, seperti furnitur, udang, ikan laut, hingga pakaian. Namun, BCA memilih untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan, khususnya dalam hal pembiayaan terhadap sektor-sektor tersebut.
“Kita juga tidak mau cepat-cepat, wah inventarisasinya semua perusahaan furnitur, apparel, terus kemudian apa lagi, yang ekspor seafood, dan perusahaan, kurangi kreditnya, habiskan semuanya. Kita nggak mau grasah-grusuh seperti itu. Kita akan mengamati sambil melihat perkembangan suasana,” ujar Jahja dalam konferensi pers kinerja BCA kuartl I-2025, dikutip, Kamis, 24 April 2025.
Baca juga: BI Soroti Dampak Global Tarif Trump, The Fed Diprediksi Turunkan Suku Bunga
Jahja menaruh harapan agar proses negosiasi pemerintah terkait tarif berjalan mulus sehingga tidak berdampak signifikan pada industri-industri ekspor.
“Jadi kita harapkan kalau semua berjalan sesuai dengan strategi yang disusun oleh pemerintah kita, maka kemungkinan nggak akan terlalu memengaruhi industri-industri yang saat ini paling terkena dampak dari tarif tersebut,” pungkasnya.
Baca juga: Jahja Setiaatmaja Pamit, Mulai 1 Juni, BCA Punya Presiden Direktur dan Komisaris Baru
Di sisi lain, Jahja menyampaikan keyakinannya bahwa fundamental BCA tetap kuat dalam menghadapi potensi dampak dari kebijakan tersebut.
Hal itu tecermin dari rasio loan at risk (LAR) dan non-performing loan (NPL) yang terjaga, masing-masing di angka 6 persen dan 2 persen hingga kuartal I-2025. Rasio pencadangan NPL dan LAR juga berada pada level yang solid, yakni 180,5 persen dan 66,5 persen.
“Jangan khawatir NPL kita juga akan tetap terjaga. Saat ini NPL kita 2 persen jauh di bawah industri, dan rasanya ini kita bisa mitigasi alat-alat seperti ini, cadangan kita juga cukup,” tegasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More
Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More
Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More
By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More
Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More