Boneka Garam: Membedah Budaya Kerja Bank Mandiri

Boneka Garam: Membedah Budaya Kerja Bank Mandiri

Boneka Garam: Membedah Budaya Kerja Bank Mandiri
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Saat ulang tahun ke-22 pada 2 Oktober 2020, Bank Mandiri mendapat kado istimewa: Boneka Garam. Bukan boneka secara an sich, tapi sebuah buku. Buku berisi 22 cerita dan renungan tentang budaya kerja Bank Mandiri.
 
Adalah Rico Usthavia Frans, penulis buku bertajuk Boneka Garam itu. Saat memberikan kado unik tersebut, Rico masih menjabat sebagai Direktur IT Bank Mandiri. Per 15 Maret 2021 masa jabatan yang diembannya sejak 2016 itu berakhir.
 
Setelah lepas dari Bank Mandiri, Rico langsung dipercaya sebagai komisaris di dua korporasi finansial teknologi, yakni di LinkAja dan AwanTunai.    
 
Rico bergabung di Bank Mandiri sejak tahun 2010, dengan jabatan awal sebagai Group Head Electronic Banking. Pengalaman selama 10 tahun mengabdi di BUMN terbesar di Tanah Air itulah yang dia rangkum menjadi “Boneka Garam” yang mengajak pembaca untuk ikut merenung.
 
“Buku ini berisi random thoughts yang saya tulis saat melihat, mendengar, mengalami, atau merenungkan sesuatu yang menarik selama 10 tahun di Bank Mandiri,” ungkap bankir jebolan ITB dan University of California, Berkeley, itu dalam bukunya.
 
Karenanya, buku setebal 116 halaman yang disampaikan dengan bahasa ringan itu penuh dengan refleksi dirinya sebagai Mandirian, sebutan untuk orang Bank Mandiri. Sangat mengena, tak hanya untuk Mandirian atau eks-Mandirian, tapi juga bisa jadi jendela bagi non-Mandirian.    
 
“Dengan bahasa khas Bro Rico yang ringan dan terkadang menggelitik, kita diajak menyelami renungan seorang Bro Rico dalam usahanya untuk menjadi Mandirian Sejati,” ujar Darmawan Junaedi, Direktur Utama Bank Mandiri, dalam kata pengantar bukunya.
 
Bro Rico, sapaan akrab Rico di lingkungan Bank Mandiri, dengan cerdas mengungkapkan sesuatu yang cukup sensitif di Bank Mandiri menjadi diskursus yang menarik, berbobot, dan egaliter.
 
“Buku Boneka Garam tidak mengisahkan sebuah ketiadaan melainkan renjana. Ibarat cinta, karena yang disampaikan Bro Rico mengandung rasa hati yang kuat, mulai dari rindu, cinta kasih, bahkan bisa jadi hasrat,” ungkap Royke Tumilaar, Direktur Utama Bank Mandiri periode 2019 – 2020, dalam kata pengantar bukunya.
 
Pengalaman Rico sebagai Citibanker sejak 1995 hingga 2010 sepertinya turut mewarnai perenungannya setelah menjadi Mandirian. Meski, akhirnya, seperti kisah Boneka Garam, kolektor boneka beruang Hard Rock Cafe kelahiran Kebumen, 31 Mei 1970, itu benar-benar larut menjadi Mandirian Sejati. Dan, bisa berteriak dengan bahagia, “Sekarang aku tahu siapa aku.”  
 
“Bro Rico memberikan pemahaman yang menarik bahwa hidup, pilihan karier, dan tempat bekerja membentuk karakter seseorang secara kuat,” ujar Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama Bank Mandiri periode 2016 – 2019, dalam kata pengantar bukunya.
 
Benar apa yang diungkapkan oleh tiga leader utama di Bank Mandiri tersebut. Renungan Rico yang dituangkan dalam Boneka Garam ini selaiknya menjadi bacaan wajib para Mandirian, agar bisa menjadi Mandirian Sejati.
 
Juga bisa menjadi bahan renungan bagi eks-Mandirian, untuk mengukur, apakah selama menjadi Mandirian, sudah layak berucap, “Sekarang aku tahu siapa aku.”
 
Dan, bagi non-Mandirian, 22 cerita dan renungan di buku ini benar-benar serupa jendela, yang menjadi celah berharga untuk melakukan refleksi diri. Apalagi bagi non-Mandirian yang berkarier di industri keuangan dan perbankan. (Darto Wiryosukarto)    
 
PROFIL BUKU
Judul               : Boneka Garam
Penulis           : Rico Usthavia Frans
Halaman         : 116 halaman
Terbit              : Oktober 2020

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]